Analisis

Tekstil Diguncang 'Prahara', Begini Kinerja SRIL hingga MYTX

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
11 May 2021 06:40
Dok.Instagram Sritex

Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) terus menjadi sorotan dalam beberapa pekan belakangan ini, seiring sejumlah masalah yang menimpa korporasi besar industri tersebut, mulai dari tekanan utang, dipangkasnya plafon kredit perusahaan, pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utanf (PKPU) hingga potensi gagal bayar.

Sebanyak dua perusahaan yang disorot yakni PT PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias SRIL yang beberapa kali digugat PKPU dan akhirnya masuk PKPU Sementara.

Bahkan, yang terbaru, akibat melewati masa tenggat pembayaran bunga utang, lembaga pemeringkat global Fitch menurunkan rating Sritex dari C menjadi RD (Restricted Default). Rating Restricted Default ini adalah peringkat utang yang satu tingkat di atas D atau default (gagal bayar).


Berikutnya, sorotan menimpa PT Pan Brothers Tbk (PBRX) yang pada Rabu (5/5) lalu diguncang prahara demo karyawan di pabrik Boyolali, Jawa Tengah. Demo yang dinilai karena adanya miskomunikasi itu terjadi untuk memprotes kebijakan perusahaan yang membayar Tunjangan Hari Raya (THR) dengan cara dicicil.

Usut punya usut, manajemen Pan Brother melalui Vice Chief Executive Officer Pan Brothers Anne Patricia Sutanto mengatakan, kondisi arus kas (cash flow) perusahaan yang terbatas membuat perusahaan menawarkan mekanisme pembayaran THR secara bertahap.

Perkembangan terbaru, pihak Pan Brothers mendapatkan poin-poin kesepakatan terkait pembayaran THR. Poin utamanya, THR akan dicicil maksimal lima kali dan akan selesai dalam September 2021.

Sebelumnya, masih segar dalam ingatan mengenai kabar potensi pailit dan gagal bayar perusahaan raksasa tekstil lainnya, Duniatex Group, pada September 2019 lalu.

Namun, pada pertengahan tahun lalu, restrukturisasi utang Duniatex yang sebesar Rp 19 triliun akhirnya disepakati oleh para kreditor.

Melihat kondisi sektor tekstil yang tampaknya memasuki 'lampu kuning' ini, bagaimana sebenarnya kondisi kinerja keuangan emiten tekstil lainnya?

Tim Riset CNBC Indonesia akan membahas secara ringkas kinerja keuangan sejumlah emiten tekstil yang melantai di bursa Tanah Air.

Catatan saja, selain tujuh emiten yang dibahas di bawah ini, masih ada setidaknya 12 emiten tekstil lainnya yang tidak dimasukkan.

Termasuk Sritex dan PBRX, lima emiten tekstil lainnya yang dimaksud, yakni PT Trisula Internasional Tbk (TRIS), PT Indorama Syntetics Tbk (INDR), PT Eratex Djaja (ERTX), PT Ever Shine Textile Industry Tbk (ESTI) dan PT Asia Pacific Investama Tbk (MYTX).

Mengenai kinerja keuangan, dari ketujuh emiten di atas, baru tiga emiten yang melaporkan kinerja keuangan per akhir Desember 2020, yakni SRIL, INDR dan TRIS. Sementara, empat sisanya masih berdasarkan laporan keuangan per kuartal III tahun lalu.

Apabila menilik kinerja keuangan, kinerja lima emiten tekstil masih tertekan, dengan tiga membukukan penurunan laba bersih dan dua emiten kembali membukukan rugi bersih. Tiga emiten yang mencatatkan pengikisan laba bersih, yakni SRIL, INDR dan ERTX.

Sementara, ESTI masih membukukan rugi bersih per kuartal III 2020, kendati rugi bersih ini berkurang dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Kemudian, TRIS yang malah menanggung rugi bersih sebesar Rp 10,61 miliar pada 2020, padahal pada tahun sebelumnya masih membukukan laba bersih Rp 795,75 juta.

Adapun dua emiten lainnya, mampu meningkatkan laba bersih di tengah pandemi Covid-19 sepanjang tahun lalu. Keduanya ialah PBRX dan MYTX. Khusus MYTX, perusahaan ini berhasil membalik rugi bersih pada periode yang sama 2019 menjadi untung pada triwulan III 2020.

Apabila menilik arus kas operasi perusahaan, tercatat ada tiga emiten yang memiliki arus kas negatif. Ketiga emiten yang dimaksud, yakni SRIL, PBRX dan MYTX.

NEXT: Kondisi SRIL hingga MYMX

SRIL hingga MYTX
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading