Review Kuartal I-2021

Banjir Australia Reda, Batu Bara Dapat 'Bad News' dari Biden!

Market - Tirta Widi Gilang Citradi & Arif Gunawan, CNBC Indonesia
06 April 2021 06:03
President Joe Biden speaks during the 59th Presidential Inauguration at the U.S. Capitol in Washington, Wednesday, Jan. 20, 2021.(AP Photo/Patrick Semansky, Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang pekan lalu, harga batu bara dunia mendapatkan sentimen beragam. Berbeda dari harga minyak yang menguat sepekan lalu, harga batu bara dunia justru terkoreksi selama sepekan menyusul kian memudarnya risiko pengetatan suplai akibat banjir Australia.

Harga batu bara termal acuan Newcastle untuk kontrak yang ramai ditransaksikan dibanderol di level harga US$ 91,9/ton pada Kamis (1/4/2021), atau terhitung menguat 1,6% dari posisi sehari sebelumnya.

Namun secara pekanan, level penutupan tersebut terhitung anjlok 3,7% dibandingkan dengan posisi akhir pekan sebelumnya pada US$ 95,4/ton. Koreksi ini membalik tren sepekan sebelumnya yang menguat sebesar 1,6%.


Sepanjang Maret, harga komoditas andalan Indonesia ini terhitung melonjak 9% dibandingkan dengan posisi akhir bulan Februari sebesar US$ 82,95 per ton. Harga tertinggi yang pernah dicapai tahun ini dicetak pada 22 Maret, yakni sebesar US$ 98,4/ton.

Pemicunya adalah banjir di wilayah utama penghasil batu bara di Australia, yakni di Newcastle. Banjir terburuk selama 50 tahun terakhir ini memicu 18.000 warga mengungsi dan raksasa batu bara Australia Glencore menghentikan salah satu fasilitas produksi batu baranya.

Tidak heran, pada kuartal pertama tahun 2021 harga batu bara dunia mencatatkan kinerja yang apik dengan kenaikan hampir 11%. Namun demikian, banjir tersebut dinyatakan surut sehingga warga kembali ke rumah masing-masing pada Sabtu (25/3/2021).

Kabar bagus tersebut pun menghapus risiko seretnya pasokan batu bara dunia, sehingga harga batu bara langsung anjlok pada Senin pekan ini, kembali ke level psikologis 80, tepatnya pada US$ 88,3 per ton.

Harga batu bara kembali ke level psikologis US$ 90 pada Rabu setelah pemerintah China memutuskan untuk membuka keran impor, kecuali dari Australia karena keduanya bersitegang. Kebetulan di kuartal pertama juga bertepatan dengan momentum musim dingin dan perayaan tahun baru Imlek.

Sentimen positif juga datang dari vaksinasi yang terus digencarkan di berbagai negara sehingga memicu ekspektasi bahwa perekonomian dunia bakal segera pulih, sehingga permintaan energi seperti batu bara bakal berangsur normal dalam waktu dekat.

Namun di saat yang sama sentimen negatif juga datang dari Joe Biden, Presiden AS. Presiden ke-46 Paman Sam pekan lalu mengumumkan proposal pembangunan infrastrukturnya senilai US$ 2 triliun.

Fokus proposal tersebut adalah transisi ekonomi AS yang masih bergantung pada bahan bakar fosil ke ekonomi yang lebih sustainable dengan energi terbarukan.

Biden memang visioner karena mengejar target dekarbonisasi sektor pembangkit listrik pada 2035 dan zero emisi karbon pada 2050. Apa yang paling mencolok dari proposal Biden yang disampaikan di Pittsburgh itu adalah anggaran yang dialokasikan untuk sektor transportasi. Besarannya paling 'gede'.

Proposal Biden tentu saja menjadi sentimen negatif terutama untuk sektor batu bara dan migas di AS yang selama ini masih mendominasi produksi dan penggunaan energi nasional.

Namun usulan Biden tersebut juga harus mendapat restu dari pihak legislatif yang saat ini suaranya terpecah. Lagipula jika berbicara tentang nasib batu bara global kiblatnya ya di Asia terutama China dan India.

Sebab itu, proposal Biden memang menjadi sentimen negatif untuk batu bara, tetapi untuk sementara waktu kemungkinannya kecil untuk menekan harga batu bara secara signifikan dalam waktu panjang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading