Biden Sah Jadi Presiden AS, Nasib Batu Bara Di Ujung Tanduk?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 January 2021 12:30
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) batu bara ICE Newcastle perlahan-lahan mulai menguat lagi. Pasca harga anjlok dari US$ 90/ton ke US$ 84,55/ton kini harga si batu legam sudah mulai menyentuh level US$ 85/ton.

Pada perdagangan kemarin (21/1/2021) harga kontrak batu bara yang aktif diperjualbelikan tersebut menguat 0,53% ke level US$ 85,3/ton. Dalam sepekan harga batu bara memang masih terkoreksi 4,96%.


Masih ada katalis positif yang berpotensi mengerek ke atas harga batu bara. Harga gas yang sudah terlampau tinggi akan membuat banyak pembangkit listrik mulai beralih ke batu bara. Ketatnya pasokan domestik China akan membuat Negeri Panda semakin melonggarkan kebijakan impornya.

China banyak mengimpor batu bara dari Australia dan Indonesia. Namun karena hubungan bilateral Negeri Kanguru dan Negeri Panda sedang retak, Beijing lebih memilih memboikot produk batu bara Australia dan beralih ke Indonesia.

China tidak mengizinkan kargo batu bara dari Australia melewati bea cukai pada bulan Desember. Pengiriman batu bara termal (bahan bakar di pembangkit listrik), dan batu bara metalurgi untuk pembuatan baja dari Australia jatuh ke nol pada bulan Desember.

Namun tetap saja, kenaikan harga batu bara China yang signifikan membuat harga batu bara Australia yang jadi acuan global juga ikut terkerek naik. Bayangkan saja selisih (spread) harga batu bara domestik China Qinhuangdao dengan batu bara Newcastle sempat mencapai US$ 70/ton. Itu baru selisihnya saja.

Artinya konsumen batu bara yang terdiri dari perusahaan utilitas dan sektor manufaktur terutama untuk baja akan lebih diuntungkan dengan mengimpor batu bara yang harganya lebih murah.

Secara tren historis, harga batu bara akan cenderung menguat tajam pada periode pemulihan ekonomi pasca krisis. Adanya sentimen commodity supercycle pasca Covid-19 juga menjadi katalis positif bagi komoditas ini.

Bagaimanapun juga harga batu bara sudah pulih dari Covid-19. Outlook untuk 2020 juga lebih cerah. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi batu bara global bakal tumbuh 2,6% tahun ini dibanding tahun lalu. Hanya saja konsumsinya bakal lebih rendah dari tahun 2019.

Saat Covid-19 konsumsi batu bara global drop. Akibatnya perdagangan si batu legam juga mengalami kontraksi. Reuters melaporkan perdagangan batu bara lintas laut global turun hampir 11% tahun lalu. Impor dan ekspor di seluruh dunia turun menjadi 1,098 miliar ton dari 1,233 miliar pada 2019.

Joe Biden Sah Jadi Presiden AS, Nasib Batu Bara Suram?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading