Biden Ambisius Bangun Infrastruktur US$ 2 T, Batu Bara Aman?

Market - Tirta Widi Gilang Citradi, CNBC Indonesia
05 April 2021 09:18
President Joe Biden delivers remarks on immigration, in the Oval Office of the White House, Tuesday, Feb. 2, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepekan lalu harga batu bara mengalami pelemahan sebesar 3,67%. Namun di 3 hari perdagangan terakhirnya harga batu bara berhasil ditutup menguat. Alhasil kini kontrak yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka itu dihargai US$ 91,9/ton.

Baru bara merupakan salah satu komoditas energi yang mengalami kenaikan harga di sepanjang kuartal pertama tahun ini. Sepanjang 3 bulan pertama tahun ini harga batu bara mencatatkan kinerja yang apik dengan apresiasi yang cukup signifikan dengan kenaikan hampir 11%.


Ada beberapa faktor yang mendukung penguatan harga batu bara. Semua ini karena China. Di Negeri Panda ketatnya pasokan batu bara domestik membuat harga batu bara lokal naik signifikan.

Pemerintah China akhirnya memutuskan untuk membuka keran impor, kecuali dari Australia karena keduanya bersitegang. Kebetulan di kuartal pertama juga bertepatan dengan momentum musim dingin dan perayaan tahun baru Imlek.

Biasanya kebutuhan listrik meningkat sehingga turut mengerek permintaan batu bara sebagai bahan bakar. Selain itu prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih baik juga membuat harga komoditas termasuk batu bara beterbangan.

Adanya stimulus fiskal dan moneter jumbo juga mengakibatkan tren bullish terhadap harga komoditas, tak terkecuali batu bara.

Saat ekonomi lesu dan resesi dihantam pandemi, bank sentral memangkas suku bunga acuan dan pemerintah menerapkan kebijakan fiskal ekspansif yang salah satunya ditujukan untuk pembangunan infrastruktur.

Pembangunan infrastruktur tentunya akan membutuhkan berbagai komoditas terutama yang berasal dari hasil tambang, tak terkecuali untuk batu bara jenis metalurgi (kokas) yang banyak digunakan untuk pembuatan baja.

Namun di saat yang sama sentimen negatif juga datang dari AS. Presiden ke-46 Paman Sam minggu lalu mengumumkan proposal pembangunan infrastrukturnya senilai US$ 2 triliun. 

Fokus proposal tersebut adalah transisi ekonomi AS yang masih bergantung pada bahan bakar fosil ke ekonomi yang lebih sustainable dengan energi terbarukan.

Biden memang visioner karena mengejar target dekarbonisasi sektor pembangkit listrik pada 2035 dan zero emisi karbon pada 2050. Apa yang paling mencolok dari proposal Biden yang disampaikan di Pittsburgh itu adalah anggaran yang dialokasikan untuk sektor transportasi. Besarannya paling 'gede'.

Proposal Biden tentu saja menjadi sentimen negatif terutama untuk sektor batu bara dan migas di AS yang selama ini masih mendominasi produksi dan penggunaan energi nasional.

Namun usulan Biden tersebut juga harus mendapat restu dari pihak legislatif yang saat ini suaranya terpecah. Lagipula jika berbicara tentang nasib batu bara global kiblatnya ya di Asia terutama China dan India.

Well proposal Biden memang menjadi sentimen negatif untuk batu bara, tetapi untuk sementara waktu kemungkinannya kecil untuk menekan harga batu bara secara signifikan dalam waktu panjang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading