Top! Harga Batu Bara On Fire, Tembus US$ 61/ton

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
05 November 2020 11:15
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak berjangka batu bara masih terus menguat. Namun pada perdagangan kemarin Rabu (4/11/2020), harga batu legam tersebut menguat tipis. 

Harga kontrak teraktif batu bara termal Newcastle naik 0,33% dan kini sudah tembus ke atas US$ 61/ton. Harga batu bara mulai reli sejak minggu kedua bulan Oktober pasca terkoreksi tajam.


Pandemi Covid-19 membuat permintaan batu bara terutama untuk sektor tenaga listrik segmen industri dan komersial serta sektor industri lain mengalami penurunan. Pelemahan permintaan membuat harganya drop secara signifikan. 

Para produsen yang keuangannya terganggu pun memilih untuk memangkas volume produksi. Di saat infeksi Covid-19 mulai mereda, banyak negara yang melonggarkan pembatasan. 

Hal ini berakibat pada naiknya harga komoditas. Berbeda dengan harga komoditas lain yang sudah mulai merangkak naik sejak Juni, harga batu bara baru naik belakangan. 

Salah satu pemicu naiknya harga batu bara termal Newcastle adalah kenaikan harga batu bara domestik China yang sangat tinggi akibat ketatnya pasokan di negara tersebut. 

Kebijakan kuota impor dan rumor bahwa China memboikot produk batu bara impor Australia (seaborne) membuat pasar menjadi terdiskoneksi. 

China memiliki kebijakan zona hijau atau green zone terkait rentang harga batu bara yang harus dijaga.

Zona hijau ditetapkan di rentang RMB 500 - RMB 570 per ton. Rentang harga tersebut dipilih agar tidak terlalu tinggi sehingga menggerus laba perusahaan utilitas pengguna batu bara sebagai bahan bakar. Selain itu harga juga dipatok agar tidak kerendahan yang dapat menyengsarakan para penambang.

Hanya saja harga batu bara termal China Qinhuangdao yang jadi acuan harganya sudah melampaui level tersebut. Usai turun dua minggu lalu, pekan kemarin harga batu bara domestik China kembali naik 1,5% ke RMB 616/ton.

Artinya selisih terhadap batas atas zona hijau sebesar RMB 46/ton. Jika dikonversi ke kurs dolar AS nilainya setara dengan US$ 6,81/ton. Namun jika dibandingkan dengan harga batu bara impor terutama untuk kelas batu bara termal Newcastle selisihnya mencapai lebih US$ 35/ton.

Jelas ini selisih yang sangat fantastis. Dalam kondisi normal China akan lebih memilih batu bara impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Hanya saja adanya kebijakan kuota impor membatasi hal tersebut.

Soal rumor yang beredar terkait pemerintah China yang meminta para pelaku industri tak membeli produk batu bara Australia, pemerintah China melalui menteri luar negerinya angkat bicara. Menurut menlu China, pemerintah tidak meminta kepada pelaku industri. Tindakan tersebut murni atas inisiatif para pengusaha.

Di sisi lain fokus pelaku pasar juga ke pemilu AS yang sekarang sedang dalam fase penghitungan suara. Untuk sementara waktu Biden dari Demokrat unggul jauh dari rivalnya Trump dari Republik yang sekaligus petahana.

Biden untuk sementara waktu mendapat 71,9 juta suara populer dan 264 suara elektoral meninggalkan rivalnya Donald Trump dengan 68,5 juta suara populer dan 214 suara elektoral, melansir Associated Press.

Kemenangan Joe Biden akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan energi AS. Biden dikenal dengan kebijakannya yang kontra terhadap bahan bakar fosil. Dalam berbagai kesempatan kampanye, ia menyuarakan anti-fracking hingga tak akan ada pembangkit listrik batu bara lagi.

Namun kemenangan Biden tak serta merta membuat pasar energi fosil goyang. Pasalnya komposisi kongres juga harus diperhatikan. Berdasarkan survei kemungkinan besar Partai Republik masih akan menguasai Senat sementara Demokrat akan menguasai majelis rendah (House) dan lembaga eksekutif. 

Terpecahnya kongres akan membuat Biden masih saja sulit untuk meloloskan kebijakan tersebut apabila ia terpilih menjadi orang nomor wahid di Negeri Adikuasa Paman Sam.

Ke depan selain adanya ketidakpastian kebijakan impor China, harga batu bara juga masih dibayangi oleh gelombang kedua infeksi Covid-19 di berbagai negara terutama Eropa.

Kembali maraknya lockdown dan bentuk pembatasan lain dengan berbagai skala di Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, Norwegia hingga Hungaria menjadi ancaman serius yang membuat prospek batu legam jadi suram.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading