Pemilu AS, Investor Khawatir Pasar Saham Bakal Goyang Dombret

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
31 July 2020 20:25
Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para investor bersiap untuk risiko dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang akan dilaksanakan pada musim gugur mendatang, sebab ada kekhawatiran situasi politik yang buruk berdampak pada volatilitas pasar.

Mengutip Reuters, Jumat (31/7/2020) risiko utama adalah bahwa Presiden dari kubu Republik, Donald Trump sudah mempertanyakan legitimasi pemilihan, kata para analis. Penantangnya dari Partai Demokrat, mantan Wakil Presiden Joe Biden, saat ini memiliki suara 9 persen di antara para pemilih menurut jajak pendapat Reuters.

"Ini akan menjadi lebih buruk, Saya memperkirakan akan banyak volatilitas ... tapi itu terjadi sebentar, rentangnya sekitar dua minggu," kata kepala obligasi global di Janus Henderson Investors, Nick Maroutsos.


Trump menebar ketakutan dalam kicauannya yang diunggah pada hari Kamis pagi, dia mengusulkan untuk menunda pemilu sampai orang-orang semua merasa aman. Trump juga mengatakan dia tidak percaya hasil pemilihan yang dilakukan melalui pengiriman pos. Dia menuduh akan banyak orang yang abstain alias golput, jika dilakukan melalui surat.

Sebagaimana diketahui, Satu dari lima pemilih saat ini memberikan suara melalui surat dalam pemilihan presiden, dan jumlah itu diprediksi akan naik setidaknya dua kali lipat pada bulan November.

Kicauannya tersebut menyebabkan turunnya pasar saham Amerika. Pasar derivatif menilai risiko volatilitas akan meningkat setelah pemilihan.

Trump tidak memiliki wewenang langsung untuk mengubah tanggal pemilihan. Padahal, fokus investor adalah terkait pemilihan, bukan bagaimana jika pemilihan ditunda.

Jika pemilihan tersebut hasilnya tanpa pemenang, maka akan membenahi indeks S&P 500, yang kembali naik hampir 45% sejak posisi terendahnya pada Maret. S&P turun 1,8% pada pembukaan perdagangan, satu hari setelah pemilu 7 November 2000.

Pemilu kala itu adalah perebutan suara antara partai Demokrat yaitu Al Gore dan Partai Republik George W Bush.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading