Trump vs Biden, Siapa Bisa Bawa Emas To The Moon Lagi?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
17 October 2020 11:40
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Tarik ulur negosiasi paket stimulus ekonomi Covid-19 membuat harga emas tertekan. Kebijakan fiskal yang ekspansif disertai dengan moneter yang ultra longgar telah menjadi pemicu utama harga logam kuning tersebut menguat 25% sepanjang tahun ini. 

Sepekan terakhir, harga bullion bergerak di rentang level US$ 1.890 - US$ 1.930 per troy ons. Nasib emas minggu ini kurang mujur karena terkoreksi 1,6%. 


Dalam 41 pekan terakhir, ada 16 pekan di mana harga emas terkoreksi.

Di saat emas ambles, indeks dolar menguat 0,67%. Indeks dolar mencerminkan kekuatan dolar AS terhadap mata uang lain. Ketika indeks dolar naik maka dolar AS sedang menguat. Emas dan dolar bergerak berlawanan arah dan memiliki korelasi negatif yang sangat kuat. 

Penguatan dolar ini dipicu oleh ketidakjelasan soal paket stimulus ekonomi AS. Antara pemerintahan Donald Trump, Partai Republik dan Partai Demokrat belum juga sepaham dalam hal besaran stimulus yang akan digelontorkan. 

Masifnya stimulus yang digelontorkan oleh pemerintah dan bank sentral membuat pasar kebanjiran likuiditas. Artinya ada pasokan uang yang begitu melimpah sehingga memicu terjadinya devaluasi nilai tukar dalam hal ini dolar AS. 

Masyarakat dan investor pun melihat ada risiko inflasi tinggi di masa depan akibat kebijakan ini ketika ekonomi berangsur pulih. Adanya inflasi tinggi menjadi ancaman yang membuat investor memasukkan emas ke dalam portofolionya dengan tujuan untuk diversifikasi maupun proteksi (hedging) terutama terhadap inflasi. 

Faktor fundamental inilah yang membuat harga emas terbang dan sangat sensitif atau ketergantungan akan stimulus. 

"Ketidakjelasan seputar rancangan undang-undang stimulus tahun ini sangat tidak pasti membuat emas tetap terikat pada dolar AS," kata Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam dasar dan mulia di BMO, melansir Reuters.

"Sementara sentimen untuk emas tetap kuat & bullish. Namun tanpa pendorong jangka pendek yang kuat, emas tampaknya akan terombang-ambing di sekitar US$ 1.900 tidak dapat secara substansial menembus kisaran bulanan US$ 1.850 - US$ 1.950." pungkasnya. 

Dalam waktu dekat masyarakat AS akan memilih siapa yang bakal menjadi Presiden mereka untuk empat tahun ke depan. Jelang pemilu AS yang dihelat 3 November nanti, biasanya pasar memang cenderung wait & see.

Peluang harga emas melemah jelang pesta demokrasi rakyat AS pun terbuka lebar dan telah diperkirakan oleh para analis. "Dengan banyaknya risiko yang kita lihat dan puncaknya di pemilu AS, kita telah melihat harga emas bakal lebih rendah untuk bulan depan" kata Jeffrey Halley analis senior OANDA.

Namun setelah pemilu selesai dan pemerintahan baru terbentuk, maka harga emas berpeluang naik lagi. Apalagi jika yang menjabat sebagai presiden AS ke depannya adalah Biden. 

Sebagai seorang Demokrat, analis melihat kebijakan Biden yang cenderung bagi-bagi uang secara masif akan sangat menekan dolar AS. Di saat yang sama ketika dolar AS tertekan, emas justru seperti mendapat berkah dan bakal jadi primadona kembali. 

Meski banyak poling yang menunjukkan bahwa Biden saat ini lebih diunggulkan, tetapi pasar juga bersiap pada hal yang sebaliknya. Seperti pada pemilu empat tahun lalu ketika Trump berhasil mengalahkan lawannya Hillary Clinton dari Demokrat.

Di akhir tahun emas berpeluang kembali ke rentang level tertingginya sepanjang sejarah di US$ 2.000/troy ons. Untuk tahun depan emas diproyeksikan bakal menyentuh level US$ 2.100/troy ons.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading