Impor Batu Bara China Meroket, HBA November Naik ke US$ 55,71

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
04 November 2020 12:17
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Batubara Acuan (HBA) Indonesia untuk November 2020 naik 9,23% menjadi US$ 55,71 per ton dari US$ 51 per ton pada Oktober 2020.

Agung Pribadi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, peningkatan HBA November ini dipicu karena meningkatnya permintaan batu bara dari China.

"HBA November sebesar US$ 55,71. Kenaikan HBA November disebabkan oleh meningkatnya permintaan (impor) batu bara dari Tiongkok karena harga batu bara domestik Tiongkok lebih tinggi daripada harga batu bara impor," jelas Agung saat dihubungi pada Rabu (04/11/2020).


Tak hanya itu, lanjutnya, pulihnya ekonomi Jepang dan Korea Selatan juga berdampak pada peningkatan permintaan batu bara global.

"Selain itu, pulihnya industri di Jepang dan Korea Selatan ikut meningkatkan permintaan batu bara secara global," tuturnya.

Sejak Covid-19 melanda dan ditetapkan sebagai pandemi global pada 2020, HBA sempat menguat sebesar 0,28% pada angka US$ 67,08 per ton pada Maret, dibanding Februari US$ 66,89 per ton. Kemudian, HBA terus mengalami pelemahan ke angka US$ 65,77 per ton pada April dan US$ 61,11 per ton pada Mei.

Selanjutnya, pada Juni turun ke angka US$ 52,98 per ton, Juli US$ 52,16 per ton, dan Agustus US$ 50,34 per ton. September kembali anjlok US$ 49,42 per ton, menguat pada Oktober US$ 51 per ton dan, kembali menguat pada November ini menjadi US$ 55,71 per ton.

Sebagai informasi, HBA sendiri diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya. Kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal per kilo gram (kg) GAR.

Nantinya, harga acuan ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading