Analisis

Parah! 5 Tahun Investasi, 8 Saham Properti Malah Babak Belur

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
26 March 2021 13:35
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham sektor properti di Bursa Efek Indonesia (BEI) memang menjadi salah satu pilihan investor untuk membenamkan dana investasinya di pasar modal karena dinilai punya prospek besar untuk bertumbuh di tengah tingkat backlog (kekurangan) perumahan di Indonesia.

Namun data BEI mencatat, dari sekian banyak emiten properti (sekitar 60-an emiten di subsektor properti dan real estate), ada delapan saham emiten properti yang justru mencatatkan kinerja jeblok selama 5 tahun terakhir.

Bahkan, ada saham yang anjlok sampai 60% dalam kurun waktu tersebut. Ini berbanding terbalik dengan slogan investasi di pasar modal yang memberikan keuntungan jangka panjang.


Tidak hanya itu, dalam sebulan dan secara year to date (YTD) hingga perdagangan Kamis kemarin (25/3), pun mayoritas saham-saham tersebut tercatat ambles.

Berikut daftar saham properti yang kinerjanya anjlok dalam 5 tahun belakangan, per data Kamis (25/3).

Bila melihat daftar di atas, saham emiten Grup Lippo, LPKR, menjadi yang paling 'terjun' di antara saham lainnya. Sementara, saham SSIA dan CTRA mencatatkan penurunan terendah di antara saham sektor properti lainnya.

Bagaimana analisis terhadap saham-saham ini?

Lippo Karawaci (LPKR)

Saham pengelola mal Plaza Semanggi, LPKR, mencatatkan rapor merah baik secara harian, sebulan, YTD, sampai 5 tahun.

Kemarin, Kamis (25/3), saham LPKR terkoreksi 1,50% ke Rp 197/saham. Sementara dalam sebulan, saham pemilik Lippo Mal Kemang ini juga turun 2,48%.

Adapun, selama sebulan terakhir, saham properti Grup Lippo ini juga terjun 7,94%. Tidak hanya itu, bahkan dalam 5 tahun terakhir, saham pengelola hotel Aryaduta ini sudah terjun bebas 62,84%.

Selama 5 tahun terakhir, asing sudah ramai-ramai melego saham LPKR dengan catatan jual bersih sebesar Rp2,74 triliun.

Semenjak mencatatkan kenaikan tertinggi dalam 5 tahun terakhir di posisi Rp 952 pada 13 Juni 2016, saham LPKR terus cenderung turun sampai hari ini.

Saham ini tercatat beberapa kali sempat mencapai harga terendah di Rp 119 pada 16, 17, 24 dan 30 September di tahun pandemi 2020.

LPKR membukukan rugi bersih per kuartal III tahun lalu, sehingga price to earning ratio (PER) tidak bisa dihitung. Adapun dengan menggunakan rasio price to book value (PBV), LPKR tergolong murah, yakni 0,53 kali.

Semakin rendah PBV biasanya perusahaan akan dinilai semakin murah. Secara rule of thumb, PBV akan dianggap murah apabila rasionya berada di bawah angka 1 kali.

Dibandingkan dengan rerata 5 tahun terakhir pun, yang sebesar 0,77 kali, PBV LPKR masih tergolong rendah.

Setali tiga uang, dibandingkan dengan PBV rerata sektor properti yang sebesar 1,99 kali, PBV perusahaan yang berdiri pada 1990 ini masih tergolong murah.

Namun memang, perusahaan induk PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) ini memang beberapa kali mencatatkan rugi bersih dalam 5 tahun terakhir.

Per kuartal III 2020, LPKR mencatatkan rugi bersih Rp 2,34 triliun, meningkat dibandingkan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,72 triliun.

Di sepanjang 2019, misalnya, LPKR membukukan rugi bersih Rp 1,98 triliun. Padahal pada tahun 2018 perusahaan ini masih mencetak laba bersih sebesar Rp 720 miliar.

Pada 2017, perusahaan pengembang Holland Village Jakarta ini juga mencatatkan rugi bersih Rp 377,34 miliar.

Melalui paparan publik akhir tahun lalu manajemen mengaku, kinerja keuangan terganggu akibat dampak pandemi Covid-19 sejak awal 2020.

Selain itu pihak LPKR mengatakan, fleksibilitas keuangan perusahaan disokong oleh penjualan mall Puri yang diperkirakan akan selesai pada kuartal I tahun ini.

Setelah disetujui para pemegang saham, LPKR resmi menjual Lippo Mall Puri kepada Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT) senilai Rp 3,5 triliun.

NEXT: Punya Saham SSIA dan CTRA? Cek Ini

Punya Saham SSIA-CTRA, Cek Dulu Bro-Sis
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading