Tak Ada Ampun, Saham Bank Mini Babak Belur kena ARB

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
23 March 2021 09:38
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rombongan saham bank mini (bank dengan modal inti Rp 1 - 5 triliun) kembali berjatuhan ke zona merah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (23/3/2021). Beberapa di antaranya tercatat menyentuh auto rejection bawah (ARB).

Para pelaku pasar tampaknya mulai ramai-ramai meninggalkan saham bank bermodal 'cekak' ini dalam sepekan terakhir.

Berikut gerak saham bank mini pagi ini, pukul 09.13 WIB, serta kinerja saham sepekan.



Dari tabel di atas terdapat empat saham bank mini yang menyentuh ARB, yakni AGRS, BVIC, BNBA dan BMAS.

Dalam sepekan, 10 dari 11 saham emiten di atas mengalami anjlok yang besar, merentang dari 6%-29%. Ini menunjukkan pelaku pasar tampaknya mulai ramai-ramai melego saham-saham bank mini, setelah setidaknya dalam sebulan terakhir bank bermodal 'cekak' ini 'terbang' tinggi.

Saham AGRS menjadi yang paling ambles dan menyentuh ARB, yakni sebesar 6,87% ke Rp 610/saham. Dalam sepekan saham ini sudah anjlok 24,22%.

Praktis, sejak suspensi saham dibuka oleh BEI pada 18 Maret pekan lalu, saham AGRS selalu berkubang di zona merah.

Sebelumnya, otoritas bursa 'menggembok' saham AGRS pada 8 Maret 2021 setelah saham ini mengalami peningkatan yang signifikan.

Sebelumnya, melalui keterbukaan informasi di awal bulan ini, pihak AGRS berkomitmen menjadi bank BUKU III dengan memenuhi aturan modal inti minimum OJK.

Melalui tanggapan tertulis ke BEI pada 8 Maret lalu, Manajemen perusahaan juga menyangkal soal isu akuisisi unicorn dan rencana masuk ke bank digital.

Sementara, dalam materi PE insidentil pada 15 Maret 2021, AGRS menjelaskan akan melakukan penambahan saham baru. Ini sesuai dengan rencana sebelumnya yang dijelaskan di keterbukaan informasi pada 8 Desember tahun lalu. AGRS akan melakukan penawaran umum terbatas melalui rights issue dengan menerbitkan saham baru sekitar 7,28 miliar.

Di tempat kedua, ada saham BVIC yang juga menyentuh ARB setelah ambles 6,84% ke Rp 177/saham. Dalam sepekan saham ini sudah terperosok sedalam 29,20%.

Dengan demikian, sejak suspensi dibuka pada 12 Maret lalu, saham ini terus berada di zona merah.

Informasi saja, pihak bursa sempat menghentikan sementara perdagangan saham BVIC pada 2 Maret 2021 setelah saham ini melesat dan bergerak liar.

Sebelumnya, manajemen BVIC menjelaskan, perusahaan sedang berupaya memenuhi aturan modal inti minimum OJK. Hal ini dilakukan dengan menerbitkan saham baru melalui rights issue hingga 2022.

Selain itu, pihak BVIC juga menegaskan perusahaan tidak berencana menjadi bank digital dan tidak ada unicorn yang berniat mengakuisisi saham perusahaan.

Kenaikan saham bank mini akhir-akhir ini didorong oleh sentimen narasi bank digital dan aturan pemenuhan modal inti oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK No 12/2020.

Peraturan tersebut mengharuskan bank untuk memiliki modal inti minimum bank umum sebesar Rp 1 triliun tahun ini, Rp 2 triliun pada 2021 dan minimal Rp 3 triliun tahun 2022. Dengan aturan tersebut, bank-bank dengan modal mini harus mencari investor strategis untuk menyuntikkan modal.

Sejumlah bank mini sudah memberikan tanggapan terkait isu bank digital melalui keterbukaan informasi di website BEI. BBHI, BACA dan BBYB, misalnya, berencana untuk masuk ke bank digital.

Namun, ada juga sejumlah bank mini lainnya yang menyangkal akan bertransformasi menjadi bank digital, seperti BGTG dan Bank Maspion (BMAS). Adapun ARTO dan AMAR sudah tercatat menjadi bank digital saat ini.

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading