Cihuy! Duo ANTM-TINS Melesat, Rupanya Karena Kabar Ini

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 March 2021 11:13
A worker uses the tapping process to separate nickel ore from other elements at a nickel processing plant in Sorowako, South Sulawesi Province, Indonesia March 1, 2012. REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat melemah di awal perdagangan, dua saham emiten produsen nikel pelat merah melaju di zona hijau pagi ini, Senin (9/3/2021). Kedua saham tersebut, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Timah Tbk (TINS).

Penguatan kedua saham tersebut seiring adanya kabar baik dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) soal holding perusahaan baterai di Indonesia yang akan terbentuk paling lambat Juli 2021.

Pada pukul 10.35 WIB, saham ANTM terkerek naik 2,19% ke posisi Rp 2.330/unit. Nilai transaksi emiten BUMN ini sebesar Rp 592 miliar. Penguatan ANTM ini dibayangi oleh aksi jual asing sebesar Rp 11,70 miliar.


Dengan penguatan pada pagi ini, saham ANTM menghentikan tren pelemahan yang dimulai sejak Selasa pekan lalu (2/3).

Kemudian, saham TINS ikut terapresiasi 1,96% ke Rp 1.825/unit dengan catatan transaksi Rp 127 miliar. Menguatnya saham TINS hari ini terjadi setelah mengalami pelemahan sejak 26 Februari 2021, dan setelah sempat stagnan di Rp 1.890/unit pada Jumat pekan lalu (5/3).

Sebagai informasi, Kementerian BUMN saat ini tengah membentuk konsorsium sejumlah perusahaan BUMN untuk membangun industri baterai terintegrasi dari hulu sampai hilir, namanya PT Industri Baterai Indonesia (IBI).

Ada empat BUMN yang terlibat dari kepemilikan holding BUMN baterai ini dengan masing-masing kepemilikan saham 25%. Mulai dari PT Pertamina (Persero), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT PLN (Persero) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau MIND ID.

Kementerian BUMN memang tengah membentuk konsorsium sejumlah perusahaan BUMN untuk membangun industri baterai terintegrasi dari hulu sampai hilir, namanya PT Industri Baterai Indonesia (IBI).

Ada empat BUMN yang terlibat dari kepemilikan holding BUMN baterai ini dengan masing-masing kepemilikan saham 25%. Mulai dari PT Pertamina (Persero), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT PLN (Persero) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau MIND ID.

Sebagai gambaran, PT IBI direncanakan bisa membuat baterai listrik hingga total berdaya 195 giga watt (GW) dengan mengonsumsi 150 ribu ton nikel per tahun. Tapi pada tahapan pertama dipatok hanya 33 GW produksi baterai listrik hingga 2030.

"Nilai investasi kalau 33 GW hingga 2030 itu sekitar US$ 13 miliar. Jika kapasitas naik 70% atau 140 GW pada tahap kedua, nilai investasi bisa mencapai US$ 17 miliar. Ini investasi juga dengan mitra luar negeri," jelas Komisaris Utama MIND ID, Agus Tjahajana Wirakusumah, dalam program 'Zooming With Primus: Prospek Pembentukan Holding Baterai' yang juga ditayangkan dalam kanal YouTube BeritaSatu, dikutip Selasa (9/3/2021).

Perusahaan ini juga akan menggandeng LG Energy Solution dan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Proyek ini juga akan melibatkan anak usaha MIND ID atau Inalum yakni ANTM dan PT Timah Tbk (TINS).

Adapun MIND ID juga memiliki 20% saham PT Vale Indonesia (INCO) yang bergerak di tambang nikel dan sudah diakuisisi tahun lalu.

Daur Ulang

Tidak hanya berhenti dalam pembangunan pabrik baterai, namun pengembangan PT IBI ini juga akan membangun pabrik daur ulangnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Investasi dan Pertambangan Kemenko Maritim dan Investasi (Marves) Septian Hario Seto. Dia mengatakan Indonesia bakal mendaur ulang baterai dan sampah nikel lainnya.

"Sudah lengkap, ada tambang, bukan hanya itu saya ada juga recycling," paparnya dalam acara Future Energy Tech and Innovation Forum 2021 yang diselenggarakan Katadata secara virtual, Senin, (08/03/2021).

Jika cadangan sudah habis maka bisa didaur ulang, dan persentase yang bisa didaur ulang menurutnya sangat baik yakni mencapai 99% recovery dari metalnya.

"Ada pengolahan, smelting, recycle sudah mulai membangun, ini penting kalau habis punya kapabilitas dari recycling, Indonesia masih akan unggul," paparnya.

Selain saham ANTM dan TINS di atas, tiga saham emiten nikel lainnya yang bergerak di zona hijau, yakni Harum Energy (HRUM) yang melonjak 2,45% ke Rp 5.225/unit.

Kemudian, Central Omega Resources (DKFT) yang menguat 1,75% ke Rp 173/unit, lalu Pelat Timah Nusantara (NIKL) yang naik 0,41% ke Rp 1.225/unit.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading