Terdongkrak Harga Minyak, Harga CPO Ikut Melesat 1,5%

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
05 February 2021 13:32
Ilustrasi kelapa sawit. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) minyak sawit mentah (CPO) Malaysia melesat lebih dari 1%. Kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu sentimen positif pengerek harga CPO.

Hingga sesi istirahat perdagangan siang hari ini, Jumat (5/2/2021) harga kontrak CPO yang aktif diperdagangkan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 1,54% atau bertambah RM 51 ke RM 3.368/ton. 


Kenaikan harga CPO ditopang oleh penguatan harga minyak mentah. Harga kontrak futures Brent kini sudah semakin mendekati US$ 60/barel. Komitmen para kartel yang tergabung dalam OPEC+ untuk menjaga defisit pasokan minyak membuat harga si emas hitam terkerek naik.

Harga minyak mentah dan minyak sawit berkorelasi mengingat CPO merupakan salah satu bahan baku pembuatan biodiesel yang menjadi bahan bakar alternatif dari fossil fuel. Kenaikan harga minyak akan menjadi sentimen positif untuk harga CPO.

Namun di sepanjang tahun ini harga CPO sudah terkoreksi 10,4%. Pemicunya adalah ekspor Malaysia di bulan Januari yang lesu. Menurut data perusahaan surveyor kargo yang diwartakan Reuters, ekspor produk minyak sawit bulan Januari drop 32% hingga 37% dibanding bulan sebelumnya.

Stok di produsen terbesar kedua dunia terlihat naik 1,75% dari bulan sebelumnya menjadi 1,29 juta ton, menurut estimasi median dari 11 pekebun, pedagang dan analis yang disurvei oleh Reuters.

Produksi, yang drop akibat banjir di beberapa bagian Malaysia dan kekurangan tenaga kerja karena pembatasan mobilitas publik. Produksi diperkirakan turun 13% menjadi 1,16 juta ton, terendah sejak Februari 2016.

Selain itu kabar yang datang dari India juga turut membuat harga anjlok. India sebagai salah satu importir minyak sawit terbesar di dunia memutuskan untuk menaikkan bea impor minyak nabati yang jadi komoditas unggulan RI dan Malaysia tersebut.

Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman mengatakan penambahan pajak atas impor minyak sawit ini dilakukan karena India mencoba membangun infrastruktur dan untuk mendongkrak produksi dalam negeri.

Sitharaman mengatakan India memangkas pajak dasar impor minyak sawit mentah menjadi 15% dari sebelumnya 27,5%, tetapi memberlakukan 17,5% pajak tambahan secara terpisah.

Lebih lanjut dia mengatakan, kenaikan pajak akan mempersempit kesenjangan bea antara minyak sawit dan minyak nabati lainnya, sehingga akan mengurangi impor minyak sawit India dan berpotensi menekan harga minyak sawit Malaysia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading