Saham Batu Bara Diborong & Harga Melesat, Apa Penyebabnya?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
05 February 2021 09:43
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kembali mewujudkan komitmennya dalam upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah pertambangan batu bara. Salah satunya adalah dengan memproduksi karbon aktif dari bahan baku batu bara.

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten batu bara mulai bergeliat pada awal perdagangan sesi pertama Jumat (5/2/2021). Menggeliatnya harga saham batu bara dipicu kenaikan harga batu bara acuan (HBA) domestik.

Simak pergerakan saham batu bara pada perdagangan sesi I pukul 09:10 WIB hari ini.


Berdasarkan data dari RTI, pada pukul 09:10 WIB, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menduduki posisi pertama penguatan saham batu bara pada perdagangan sesi I hari ini.

Saham BUMI sudah melesat 5,36% ke posisi Rp 59/unit pagi hari ini. Nilai transaksi saham BUMI pagi ini telah mencapai Rp 19,4 miliar dan volume transaksi sebanyak 332 juta lembar saham. Namun, investor asing melakukan jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 419,73 juta.

Selanjutnya, di posisi kedua terdapat saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) yang melesat 4,58% ke level Rp 320/unit pada pukul 09:10 WIB. Nilai transaksi saham BUMI pagi ini telah mencapai Rp 27 miliar dan volume transaksi sebanyak 85,5 juta lembar saham. Investor asing juga melakukan jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 471,44 juta.

Sedangkan penguatan paling minor dibukukan oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang menguat 2,58% ke Rp 1.195/unit dengan nilai transaksi yang sudah mencapai Rp 55,8 miliar pagi ini. Volume transaksi yang diperdagangkan mencapai 47,4 juta lembar saham.

Tak seperti BUMI dan DOID, di saham ADRO asing sudah masuk di pasar reguler sebanyak Rp 1,24 miliar pada pagi hari ini.

Melesatnya saham batu bara diakibatkan oleh melonjaknya harga batu bara acuan (HBA) pada Februari 2021, yakni melonjak ke posisi US$ 87,79 per ton atau naik 15,75% dari posisi harga Januari 2021 yang sebesar US$ 75,84 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, kenaikan ini dipicu sentimen yang dibentuk oleh super siklus komoditas.

"Adanya sentimen commodity supercycle, antara lain kenaikan harga gas ikut memperkuat harga batu bara," papar Agung, seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian, Kamis (04/02/2021).

Agung menyebut sinyal supercycle ini diyakini bakal terjadi di tahun ini pada berbagai komoditas, terutama komoditas pertambangan. Salah satu pemicunya berasal dari suku bunga acuan yang rendah, dolar AS yang lemah, pertumbuhan ekonomi, serta pembangunan infrastruktur di berbagai negara.

Lebih lanjut dia menyampaikan, selain dari faktor supercycle, melonjaknya permintaan impor batu bara dari China juga turut mendorong HBA.

"Suplai batu bara domestik (China) tidak dapat memenuhi kebutuhan batu bara pembangkit listriknya," ungkapnya.

Harga batu bara kembali pulih dan berangsur naik dalam empat bulan terakhir setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Pada Oktober 2020 HBA di posisi US$ 51 per ton, lalu naik di November 2020 ke posisi US$ 55,71 per ton, dan Desember 2020 naik menjadi US$ 59,65 per ton. Lalu, naik lagi pada Januari 2021 ke posisi US$ 75,84 per ton.

"Selama empat bulan terakhir harga batu bara terus menuju ke level psikologis," jelasnya.

Sebagai informasi, perubahan HBA diakibatkan juga oleh faktor turunan suplai dan faktor turunan dari permintaan.

Untuk faktor turunan suplai dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di rantai pasok seperti kereta, tongkang, maupun terminal bongkar muat (loading terminal).

Sementara untuk faktor turunan permintaan, dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nantinya, HBA bulan Februari ini akan dipergunakan pada penentuan harga batu bara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading