Ajib! Merger Belum Usai, Bank Syariah Indonesia Dilirik Asing

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
22 January 2021 18:50
Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri, Hery Gunardi

Jakarta, CNBC Indonesia - Resminya penggabungan (merger) bank syariah milik Himbara tinggal menunggu hari mengingat sesuai dengan rencana penggabungan ini baru akan resmi pada 1 Februari 2021.

Namun meski belum efektif, ternyata bank hasil penggabungan ini yang akan bernama Bank Syariah Indonesia (BRIS) telah dilirik oleh investor asing.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi.


"Kami embrace policy ini mana tau lewat SWF [Sovereign Wealth Fund] ada investor global yang ingin punya kepemilikan di BSI why not, mana tahu. Tidak sekarang, tapi sudah ada yang bertanya karena liat pola kita bangun BSI," kata Hery dalam webinar Masyarakat Ekonomi Syariah, Jumat (22/1/2021).

Dia mengatakan, dalam membangun bank ini, perusahaan mengedepankan prinsip inklusivitas, bukan eksklusivitas dan nantinya akan disandingkan dengan produk-produk perbankan syariah yang inovatif.

Selain itu, nantinya bank ini juga akan dilengkapi dengan adanya kanal digital yang akan melayani masyarakat Muslim di seluruh kalangan.

"Ini jadi modal dasar berkembang lebih cepat. Jadi bank ini lagi jadi harapan semua pihak tidak hanya pemegang saham pemerintah, regulator, stakeholder dan ini milik kita semua, milik Indonesia," imbuh Hery.

Merger ini melibatkan PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS), dan PT BNI Syariah dengan BRIS sebagai entitas penerima bank hasil merger. Kode saham di papan Bursa Efek Indonesia juga tetap memakai BRIS.

Sebelumnya PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sudahbmengerek prospek (outlook) peringkat tiga bank syariah BUMN terkait rencana penggabungan usaha atau merger.

Perubahan outlook ini sejalan dengan ekspektasi meningkatnya pangsa pasar pascamerger dan menjadi bank syariah dengan aset terbesar di Indonesia.

Pefindo mengubah outlook BSM, BRIS, dan BNI Syariah dari sebelumnya AA+ stabil menjadi AA+ positif. BRIS nantinya menjadi entitas penerima merger dengan nama baru, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, tetap dengan kode saham BRIS.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, BSI menargetkan pembiayaan bisa mencapai Rp 272 triliun atau sepadan dengan US$ 19,43 miliar (kurs Rp 14. 000/US$) pada 2025 dan pendanaan pada masa itu mencapai Rp 336 triliun atau setara US$ 24 miliar.

Bank syariah terbesar di Indonesia ini (hasil merger) dinilai bakal berdaya saing global dan memiliki potensi menjadi 10 bank syariah teratas secara global bersandarkan kapitalisasi pasar.

Kementerian BUMN menyebut, gabungan bank syariah BUMN ini akan memiliki kemampuan untuk merambah perusahaan tinggi yang didukung oleh produk syariah baru yang mampu bersaing dengan global dan menjanjikan bisnis anyar.

"Neraca dan kemampuan keuangan yang baik, dengan tumpuan Rp 272 triliun pembiayaan pada 2025 dan pendanaan Rp 336 triliun pada 2025, " tulis dokumen tersebut, dikutip Minggu (20/12/2020).

Berdasarkan data tersebut, memperhitungkan laporan keuangan Juni 2020, gabungan tiga bank syariah BUMN ini akan menghasilkan total aktiva mencapai Rp 214,65 triliun, terdiri dari aset BSM Rp 114,40 triliun, BNI Syariah Rp 50,76 triliun, & BRIS Rp 49,58 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading