Analisis

Membedah Potensi Tersembunyi dari BRI

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
22 January 2021 18:10
Dok: BRI

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia dan kebijakan PSBB yang diterapkan di berbagai wilayah membuat kinerja perbankan nasional tertekan. Namun seiring dengan adanya prospek pemulihan ekonomi di tahun ini, sektor perbankan merupakan sektor siklikal yang saham-nya masih layak koleksi.

Salah satu saham emiten perbankan yang patut untuk dicermati adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Bank dengan aset terbesar di Indonesia ini juga turut terdampak oleh pandemi Covid-19. Hingga November 2020, laba bersih yang berhasil dicatatkan oleh BBRI (bank only) hanya Rp 16,4 triliun atau drop 46,7% (yoy).

Saat Covid-19 Otoritas Jasa Keuangan melalui POJK nomor 11/2020 memberikan keringanan kepada para debitur melalui restrukturisasi kredit. Restrukturisasi kredit memang dapat menjaga kualitas aset perbankan yang tercermin dari rasio kredit macet (NPL) yang tetap rendah. Namun di saat yang sama ada hal yang harus diwaspadai adalah kenaikan portofolio kredit yang tercermin dari tingkat Loan at Risk (LaR) yang sudah tembus 20% per Oktober 2020.


Sebagai bank yang memiliki spesialisasi menyalurkan kredit ke UMKM, BBRI juga terekspose ke risiko tersebut. Namun menariknya risiko tersebut masih bisa dikelola oleh BBRI sehingga berpeluang mencatatkan kinerja yang solid untuk tahun ini.

UMKM sendiri tentunya menjadi perhatian pemerintah tersendiri bagi pemerintah sebagai ultimate shareholder BBRI, dimana segmen ini akan menjadi gerbang perlindungan terakhir untuk bertahan di tengah resesi dan ujung tombak bagi Tanah Air untuk keluar dari resesi. Pentingnya segmen ini sendiri tidak terleoas dari fakta bahwa UMKM adalah mayoritas yakni hampir 97% dari total pelaku usaha yang tercatat di Indonesia.

Perlu diingat ketika krisis ekonomi global melanda di tahun 2008 segmen UMKM lah yang berhasil meloloskan Indonesia dari jeratan krisis ekonomi. Restrukturisasi sendiri dilakukan sebagai komitmen pemerintah untuk menyelamatkan UMKM yang pada pandemi Covid-19 ini menjadi salah satu yang paling terdampak.

Komitmen Pemerintah selaku ultimate shareholder BBRI untuk tumbuh berkembang bersama UMKM di masa krisis ini tentu saja menjadi keyakinan tersendiri bahwa kemungkinan besar UMKM akan direstrukturisasi dan hanya berkemungkinan kecil untuk di default.

Terkait restrukturisasi, BBRI bahkan menjadi satu-satunya bank yang mampu mencatatkan penurunan jumlah utang yang direstrukturisasi selama tiga bulan secara beruntun. Per Desember 2020 total portofolio kredit yang direstrukturisasi BBRI mencapai Rp 187 triliun (20% dari total kredit) menurun dari bulan September yang masih berada di Rp 194 triliun (21% dari total kredit).

Masih seputar restrukturisasi, BBRI juga mampu menjaga kualitas aset melalui kebijakan restrukturisasi kembali yang rigid. Dalam laporan riset yang ditulis oleh IndoPremier, proporsi kredit yang mengalami restrukturisasi hingga dua kali hanya sebesar Rp 11 triliun per November 2020 atau hanya 6% dari total kredit yang disalurkan.

Hal ini juga berpengaruh terhadap perbaikan profitabilitas perbankan seperti terlihat dari rasio net interest margin (NIM) yang meningkat menjadi di atas 5% per November dari periode April yang hanya 3% saja.

Per November 2020 BBRI berhasil membukukan NIM sebesar 5,8% dan menjadi yang paling besar dibanding dengan 3 bank dengan aset terbesar lainnya yaitu BBCA, BMRI dan BBNI. Rasio profitabilitas seperti return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) BBRI masih yang terbaik dibanding dengan dua bank pelat merah lain (BMRI dan BBNI).

Hingga September 2020, rasio kredit bermasalah (NPL) gross BBRI tercatat sebesar 3,12% naik dari periode yang sama tahun sebelumnya 3,1%. Namun masih berada di bawah rata-rata industri yang berada di 3,2%.

Di sisi lain BBRI juga telah membentuk pencadangan kredit yang sangat mencukupi sehingga ketakutan apabila nantinya terjadi pemburukan kualitas kredit menjadi tidak berdasar. Berdasarkan dokumen corporate presentation BBRI, per September 2020 nilai NPL coverage ratio perbankan pelat merah ini mencapai 215%.

Di tengah gempuran pandemi Covid-19 yang membuat industri perbankan terdampak, BBRI juga ditopang dengan rasio permodalan yang kuat. Hal ini terlihat dari rasio kecukupan modal (CAR) yang berada di angka 20% dan masih di atas ketetapan regulator di angka 12%.

Selain itu BBRI juga menjadi perbankan raksasa yang layak dipantau karena di tahun pemulihan ini kabarnya BBRI akan melancarkan aksi korporasi raksasa yang konon akan menjadi aksi korporasi terbesar dalam sejarah di Indonesia.

Konsolidasi Holding Ultra Mikro
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading