Deputinya Erick Bawa Kabar Gembira buat BRIS, Apaan yah?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
19 January 2021 11:25
Menteri Badan Usaha Milik Negara RI (BUMN) Erick Thohir dalam acara CNBC Indonesia Award 2020 Indonesia dengan tema Menyongsong Bangkitnya Ekonomi Indonesia 2021. (CNBC

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian BUMN menjelaskan latar belakang dan dampak dari merger tiga bank syariah BUMN yakni PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT BNI Syariah (BNIS), ke dalam BRIS menjadi PT Bank Syariah Indonesia (BSI) yang akan efektif Februari mendatang.

Nawal Nelly, Deputi Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN, mengatakan dengan merger tiga bank syariah BUMN akan menjadi entitas baru yang akan lebih cepat berkembang dalam mewujudkan multiplier effect ke perekonomian nasional dan masyarakat secara khusus.

"Pembukaan acara ini bagus sekali dengan surat Ali Imran:103. Yang intinya [bacain ayat] komposisi ayat ini persis dengan kondisinya tiga bank syariah yang ada di kita, mereka berjalan sendiri-sendiri, maka dengan adanya inisiatif [merger] ini dikaruniai kesempatan untuk berkolaborasi menjadi Bank Syariah Indonesia," katanya dalam Webinar Sharia Economic Outlook 2021, Selasa (19/1/2021).


Dia menjelaskan, BSM saat ini melayani sekitar 8 juta nasabah, BNIS sekitar 3 juta nasabah dan BRIS menangani 4 juta nasabah.

Dengan adanya penggabungan ini, skala nasabah yang dilayani dan product offering dari masing-masing bank yang akan bergabung lebih menjadi satu dan akan lebih terkonsolidasi. Variasi produknya akan lebih matching dengan kebutuhan nasabah yang lebih besar base-nya.

Dari segi aset, kira-kira Rp 120 triliun dari BSM, ditambah Rp 100 triliun dari BNIS dan BRIS secara kolektif sehingga skala aset bisa mencapai Rp 200 triliun.

"Dalam skala aset yang Rp 200 triliun ini baik dari skala operasi, economic skill perbankan maupun dari segi present in the market juga diharapkan bisa meningkat. Dengan adanya penggabungan ini diharapkan di dalam peta perbankan di Indonesia, BSI akan menduduki rangking 7 atau 8 berdasarkan skala asetnya dan secara global ini yang lebih penting BSI akan menjadi satu dari top 10 global bank islamic."

"BSI akan bisa dijajarkan dengan bank seperti Al-Rajhi Bank di Arab Saudi, Kuwait Finance House di Kuwait sampai dengan di Aatar dan Bank Albilad di Saudi," jelasnya.

Nawal Nely adalah mantan partner dari lembaga konsultan dan auditor global, EY, yang ditarik Menteri BUMN Erick Thohir menjadi Deputi Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN

Nawal mengatakan, posisi BRIS dengan merger ini akan masuk radar 10 bank syariah top global.

"Degan adanya merger ini bukan cuma skala aja yang diharapkan bisa di-address, economic of skills itu penting sekali di sektor perbankan. Efisiensi biaya terhadap pendapatan, rasio biaya terhadap pendapatan secara kolektif normally akan membaik jika skala aset perbankan ini disatukan."

Dari sisi kualitas layanan digital, memang masih terpisah, tapi dengan adanya konsolidasi maka akan dibuat investasi teknologi untuk inovasi, pengembangan produk, dan investasi di core banking, serta GCG alias tata kelola perusahaan.

"Manfaatnya ini bagi konsumen bank syariah mereka akan merasakan product offering yang lebih broad [luas] dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing karena di-enable oleh teknologi. Dari segi governance dengan adanya investasi standarisasi SOP, approval loan dan lainnya diharapkan GCG impelementasinya akan lebih baik daripada kalau berjalan sendiri."

Dia mengatakan, BSI diharapkan akan memiliki 1.200 cabang yang bisa lebih meluas dari Sabang sampai Merauke.

"20 thousand employees full time yang diharapkan 20 ribu karyawan ini kita juga bisa invest di mereka untuk jadi champion untuk Islamic banking," katanya.

"Bank hasil penggabungan ini akan memiliki yang tadi asetnya Rp 200 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) Rp 189 triliun. Dari jumlah skala ini, harapan kita, baik layanan BSI kepada nasabah maupun kehadirannnya menjadi sebuah bank syariah dari Indonesia di dunia global dapat terealisasi secara bersamaan."

Data BEI mencatat, saham BRIS jelang penutupan sesi I ini minus 6,73% di posisi Rp 3.190/saham dengan nilai transaksi Rp 72 miliar dan volume perdagangan 22,57 juta saham. Sebulan terakhir saham BRIS masih naik 50%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading