Tragis! Emas Naik Tembus US$ 1.900, Tapi Langsung Jeblok 2,6%

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 December 2020 19:15
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia akhirnya menembus US$ 1.900/troy ons untuk pertama kalinya sejak 9 November lalu, pada perdagangan Senin (21/20/2020). Tetapi tidak lama setelah mencapai level tersebut, harga emas langsung jeblok dan berbalik melemah.

Stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS) yang akhirnya cair menjadi penggerak utama emas hari ini.

Melansir data Refinitiv, emas sempat melesat 1,37% ke US$ 1.906,46/troy ons pada hari ini. Tetapi tidak lama dari level tertinggi tersebut logam mulia ini jeblok ke US$ 1.856,29/troy ons pada pukul 17:05 WIB, merosot 1,3% dibandingkan penutupan perdagangan pekan lalu. Tetapi jika dilihat dari level tertinggi yang dicapai hari ini, emas jeblok 2,6%.


Penguatan emas ke atas US$ 1.900/troy ons dipicu oleh tercapainya kesepakatan stimulus fiskal jilid II di AS, dan akan segera cair. Stimulus fiskal, serta stimulus moneter merupakan "bahan bakar" emas untuk menguat.

Para pemimpinan Mayoritas dan Minoritas di House of Representatif (DPR) serta Senat AS sudah mencapai kesepakatan stimulus senilai US$ 900 miliar. Stimulus fiskal tersebut menjadi yang terbesar kedua yang pernah digelontorkan AS setelah US$ 2 triliun yang disebut CARES Act pada bulan Maret lalu.

Dua stimulus jumbo tersebut digelontorkan untuk membantu perekonomian AS yang mengalami resesi akibat dihantam pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Proposal stimulus tersebut kini akan di-voting di DPR dan Senat pada hari Senin waktu setempat, sebelum ditandatangani oleh Presiden AS, Donald Trump, sehingga sah menjadi undang-undang, dan akhirnya cair.

Namun, lonjakan kasus virus corona (Covid-19) di berbagai belahan dunia hingga kembali diterapkan pengetatan pembatasan sosial membuat emas terpukul. Negara-negara Eropa sudah banyak melakukan pengetatan, termasuk Jerman, motor penggerak ekonomi Benua Biru. Terbaru di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson memperkenalkan zona Tier 4 yang sebelumnya paling mentok Tier 3. Tier 4 menandakan wilayah yang paling parah mengalami 'serangan' virus corona. Beberapa wilayah, termasuk ibu kota Inggris, London, berada dalam kategori tersebut.

Di daerah berlabel Tier 4, warga benar-benar diimbau untuk #dirumahaja kecuali bekerja, kepentingan yang maha penting, memenuhi kewajiban hukum, sekolah, atau berolahraga sendiri. Warga yang tinggal di luar wilayah Tier 4 dilarang masuk, dan warga Tier 4 tidak boleh menginap di tempat lain.

Pertemuan di luar ruangan dibatasi, satu orang hanya boleh menemui satu orang. Seluruh kegiatan non-esensial seperti kolam renang, pusat kebugaran, bioskop, arena bowling, rumah judi, bar, salon, dan pusat perawatan harus tutup sementara. Aturan mengenai Tier 4 akan dikaji ulang pada 30 Desember 2020.

"Dengan sangat berat hati, saya harus katakan bahwa kita tidak bisa merayakan Hari Natal seperti yang direncanakan sebelumnya. Terus terang, saya tidak punya alternatif lain," ungkap Johnson dalam konferensi pers, sebagaimana diwartakan Reuters.

Kemudian dari Australia, Reuters melaporkan sejauh ini di Sydney sudah ada 83 kasus baru pada pekan lalu, yang membuat beberapa negara bagian melarang kedatangan warga dari kota terbesar di Australia. Beberapa maskapai bahkan sudah membatalkan penerbangan keluar Sydney mulai hari ini.

Pengetatan pembatasan sosial di berbagai negara tersebut membuat dolar AS yang menyandang status mata uang safe haven kembali diburu pelaku pasar. Hal ini membuat emas ambrol, seperti pada bulan Maret lalu, ketika virus corona ditetapkan sebagai pandemi.

Kenaikan Emas Tertahan Pola Descending Channel
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading