Kabar Buruk Silih Berganti, Harga Emas Tak akan Menguat Lagi?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 March 2021 09:48
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali melemah 0,67% pada perdagangan Selasa kemarin, melanjutkan kinerja negatif sejak awal pekan. Pelemahan emas bahkan terjadi saat yield obligasi (Treasury) AS mulai menurun.

Sementara pagi ini, Rabu (24/3/2021) harga emas dunia berada di kisaran US$ 1.727,32/troy ons pada pukul 8:29 WIB, melansir data Refinitiv. Posisi tersebut masih belum jauh dari level terendah 9 bulan US$ 1.713,91/troy ons, yang dicapai pada 8 Maret lalu.

Yield Treasury AS yang menajak hingga ke level tertinggi sejak Januari 2020, sebelumnya membuat emas terus tertekan. Sebabnya, Treasury sama dengan emas merupakan aset aman (safe haven). Bedanya Treasury memberikan imbal hasil (yield) sementara emas tanpa imbal hasil.


Dengan kondisi tersebut, saat yield Treasury terus menanjak maka akan menjadi lebih menarik ketimbang emas. Sehingga emas menjadi kurang diuntungkan ketika yield Treasury menanjak, sebaliknya saat yield turun maka emas akan mendapat sentimen positif.

Namun, dalam 2 hari terakhir, yield Treasury terus menurun, tetapi nyatanya emas malah ikut menurun.

Kali ini, giliran indeks dolar AS yang membuat harga emas tertekan. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini melesat 0,65% ke 92,336, mendekati level tertinggi dalam 4 bulan terakhir.

Emas merupakan aset yang dibanderol dengan dolar AS, kala mata uang Paman Sam tersebut menguat, maka harganya menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Alhasil, permintaan emas berisiko berkurang dan harganya menurun.

Selain itu, emas masih belum merespon stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun yang digelontorkan pemerintah dua pekan lalu, serta bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang menegaskan belum akan mengurangi stimulus moneter dalam waktu dekat.

Tepat satu tahun lalu, pemerintah AS juga menggelontorkan stimulus fiskal senilai US$ 2 triliun, dan The Fed membabat habis suku bunganya menjadi 0,25% serta mengaktifkan kembali program pembelian aset (quantitative easing/QE). Sejak saat itu, harga emas terus menanjak hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons pada 7 Agustus 2020.

Tetapi di tahun ini, stimulus fiskal dan moneter tersebut belum mampu mendongkrak harga emas dunia.

Apakah ini pertanda emas dunia tidak akan menguat lagi?

Chris Vermeulen, kepala strategi pasar di The Technical Traders mengatakan dalam jangka pendek harga emas masih akan tertekan, sementara dalam jangka panjang harga emas masih akan kembali menguat.

"Dalam jangka panjang saya bullish (tren naik) terhadap emas, tetapi dalam jangka pendek emas akan sulit untuk menguat," kata Vermeulen dalam wawancara dengan Kitco, Senin (24/3/2021).

Vermeulen juga mengatakan, ia memprediksi harga emas akan mencapai US$ 2.600/troy ons 2 tahun ke depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading