Ngenes Maksimal! Emas Dunia Jeblok ke Bawah US$ 1.900 Lagi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
08 January 2021 16:02
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Jumat (8/1/2021), hingga kembali ke bawah US$ 1.900/troy ons. Dolar Amerika Serikat (AS) yang bangkit dari level terendah dalam lebih dari 2 tahun terakhir membuat emas tertekan.

Melansir data Refinitiv, emas merosot hingga 1,54% ke US$ 1.883/troy ons di pasar spot. Posisi tersebut membaik, pada pukul 15:40 WIB berada di level US$ 1.890/troy ons, melemah 1,18%.

Di awal pekan ini, atau di pembukaan perdagangan 2021, harga emas dunia langsung meroket 2,4%, sehari setelahnya kembali naik 0,36% ke kisaran US$ 1.950/troy ons, yang memunculkan harapan berlanjutnya tren menanjak emas dunia, dan kembali ke atas US$ 2.000/troy ons.


Namun, pada perdagangan Rabu lalu, harga emas dunia ambrol 1,63% dan kemarin turun lagi 0,33%, dan berlanjut merosot hari ini.

Harga emas yang berbalik melemah akibat dolar AS yang bangkit dari level terendah sejak Maret 2018 dalam 2 hari terakhir. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut kembali naik 0,33% kemarin. Sementara sore ini menguat 0,34% ke atas level 90.

Ekspektasi bangkitnya perekonomian AS di tahun ini, serta kenaikan yield obligasi (Treasury) AS menjadi pemicu bangkitnya indeks dolar AS.

Tekanan bagi emas akan semakin besar jika data tenaga kerja AS yang akan dirilis malam ini menunjukkan pemulihan. Pasar tenaga kerja merupakan salah satu indikator kesehatan ekonomi AS, dan akan mempengaruhi kebijakan moneter dan fiskal yang akan diambil. Dua kebijakan tersebut merupakan bahan bakar emas untuk menguat.

Selain itu, pernyataan para pejabat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang menunjukkan optimisme pemulihan ekonomi membuat dolar AS "mengamuk".

"Saya terdorong untuk melihat peningkatan indikator ekspektasi inflasi... Itu yang berusaha kami bantu" kata Thomas Barkin, Presiden The Fed Richmond dalam wawancara degan Reuters Kamis kemarin.

Di tempat berbeda, Presiden The Fed St. Louis, James Bullard mengatakan semua faktor yang akan memicu inflasi sudah ada, dari kebijakan moneter dan fiskal. Bullard mengatakan saat ini kebijakan fiskal sangat powerful, dan kemungkinan akan ada tambahan lagi saat pemerintahan Joseph 'Joe' Biden.

Melihat pernyataan pejabat The Fed tersebut, emas sebenarnya berpeluang menguat lagi, sebab inflasi yang diprediksi naik dan kemungkinan adanya stimulus fiskal tambahan. Emas secara tradisional merupakan lindung nilai terhadap inflasi, ketika inflasi melesat naik, maka permintaannya akan meningkat.

Namun di sisi lain, ekspektasi kenaikan inflasi tersebut memicu penguatan dolar AS, sebab jika inflasi terus melesat maka The Fed kemungkinan akan mempertimbangkan untuk mulai mengurangi nilai program pembelian asetnya (quantitative easing/QE) yang saat ini senilai US$ 120 miliar per bulan.

Penguatan dolar AS memberikan tekanan bagi emas, begitu juga dengan pengurangan nilai QE. Sehingga harga emas kemungkinan masih akan naik turun dalam jangka pendek.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading