RI Resmi Resesi, Asosiasi Emiten: Tak Perlu Khawatir!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
05 November 2020 18:00
Ilutrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Emiten Indonesia (AE) menilai pelaku bisnis tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya resesi ekonomi di dalam negeri saat ini.

Pasalnya, pelemahan ekonomi saat ini tidak hanya terjadi di dalam negeri, melainkan juga terjadi secara global.

Ketua AEI Iwan Setiawan Lukminto mengatakan kondisi resesi ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini tidak lebih buruk dibandingkan dengan beberapa kawasan lainnya mulai dari Amerika hingga Eropa.


"Justru dengan adanya kontraksi ini, maka negara-negara besar melakukan stimulus ekonomi dalam jumlah yang sangat besar sejak pandemi hingga saat ini tercatat sudah lebih dari US$ 10 triliun stimulus yang dikeluarkan oleh negara-negara besar seperti AS, Eropa, Jepang dan China," kata Iwan kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/11/2020).

Bos PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex ini mengatakan, stimulus dengan nilai besar ini dinilai bisa dimanfaatkan bagi perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan likuiditas akibat pandemi sehingga keuangan perusahaan kembali membaik.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku bisnis untuk melakukan ekspansi dan menyerap tenaga kerja baru. Bahkan, kondisi ekonomi saat ini dinilai bisa menjadi peluang pertumbuhan bagi korporasi jika mampu menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Dia mencontohkan krisis ekonomi global subprime mortgage pada 2008 silam di mana saat itu bank sentral Amerika The Fed merespons dengan menurunkan suku bunga dan dirilisnya stimulus ekonomi dari negara tersebut lebih dari US$ 2,5 triliun.

Adanya stimulus ini berdampak pada naiknya posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari posisi 1.112 hingga pada tahun lalu bisa mencapai posisi 6.000.

"Hal tersebut sudah membuktikan bahwa di setiap krisis pasti akan pulih kembali dan bahkan lebih baik dari sebelum krisis. Tetap optimis menurut saya," tandasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan PDB Indonesia pada kuartal III-2020 mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 3,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Ini menjadi kontraksi kedua setelah kuartal sebelumnya output ekonomi tumbuh negatif 5,32% YoY. Indonesia sah masuk jurang resesi untuk kali pertama sejak 1999.

Realisasi ini lebih dalam dibandingkan estimasi pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekonomi tumbuh -3,13% YoY sementara konsensus Reuters berada di -3% YoY.

"Perekonomian di berbagai negara pada triwulan III lebih baik dibandingkan dengan triwulan II. Namun masih ada kendala karena tingginya kasus Covid-19. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam triwulan-triwulan mendatang. Perekonomian beberapa negara mitra dagang Indonesia pada triwulan III masih terkontraksi, tetapi tidak sedalam triwulan II," papar Suhariyanto, Kepala BPS siang ini.

Secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ), BPS melaporkan PDB Indonesia mampu tumbuh positif 5,05% pada kuartal III-2020. Namun pertumbuhan ekonomi secara kumulatif Januari-September 2020 (cumulative-to-cumulative/CtC) adalah -2,03%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading