Newsletter

'Joget' TikTok Bisa Buat IHSG-Rupiah Ceria Hari ini?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 September 2020 06:20
FILE - This Feb. 25, 2020, photo shows the icon for TikTok taken in New York. India is banning 59 apps with Chinese links, saying their activities endanger the country’s sovereignty, defense and security. India’s decision comes as its troops are in a tense standoff with Chinese soldiers in eastern Ladakh in the Himalayas that started last month. India lost 20 soldiers in a June 15 clash. The government says the banned apps include TikTok, UC Browser, WeChat and Bigo Live, as well as the e-commerce platforms Club Factory and Shein, that are used in mobile and non-mobile devices connected to the Internet.(AP Photo, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri menguat pada pekan lalu, sentimen dipengaruhi pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, dan Bank Indonesia.

Sentimen dari bank sentral tersebut masih akan mempengaruhi pergerakan pasar keuangan di dalam negeri pada hari ini, Senin (21/9/2020), selain juga isu lainnya seperti "joget" TikTok yang berpotensi membawa pasar keuangan dalam negeri ceria. Sentimen penggerak pasar hari ini akan di bawah di halaman 3.

Sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan penguatan 0,85% ke 5.059,223. Meski demikian, kinerja positif tersebut terbantu penguatan tajam 2,9% di hari Senin (14/9/2020), setelahnya IHSG melemah 3 hari bertuntun, sebelum menguat lagi di hari Jumat lalu.


Rupiah membukukan penguatan 0,87% ke Rp 14.730/US$ pada pekan lalu. Dalam 5 hari perdagangan, rupiah hanya melemah di hari Senin, setelahnya membukukan penguatan 4 hari beruntun.

Sementara dari pasar obligasi, Surat Utang Negara (SUN) juga mengalami penguatan. Yield SUN tenor 10 tahun turun 5,9 basis poin (bps) menjadi 6,915%.

Sebagai informasi, pergerakan yield berbanding terbalik dengan harganya. Saat harga naik, yield akan turun, sementara saat harga turun yield akan naik. 

Dari dalam negeri, pada Selasa (15/9/2020) Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini mengumumkan angka impor Indonesia pada Agustus 2020 sebesar US$ 10,74 miliar. Turun 24,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan impor mengalami kontraksi 18,78% YoY. Sedangkan konsensus versi Reuters memperkirakan kontraksi yang lebih dalam yaitu mencapai 20,58% YoY.

Dengan nilai ekspor sebesar US$ 13,07 miliar, maka neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 membukukan surplus US$ 2,33 miliar. Lebih tinggi ketimbang konsensus CNBC Indonesia yang memperkirakan US$ 2,11 miliar maupun Reuters dengan proyeksi US$ 2,16 miliar.

Rilis tersebut membuat IHSG melemah, tetapi rupiah menguat, sebab memberikan 2 gambaran. Impor yang merosot tajam berarti permintaan dari dalam negeri belum pulih, artinya roda bisnis masih berjalan lambat. Sehingga resesi sepertinya hampir pasti terjadi di kuartal III-2020.

Di sisi lain, surplus neraca dagang yang dicatat artinya pasokan devisa bertambah, yang dapat menjadi tenaga bagi rupiah untuk menguat. Neraca dagang yang mencetak surplus dalam 4 bulan beruntun tentunya bisa menipiskan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia. Jika dilihat sepanjang tahun ini, neraca dagang Indonesia hanya mencatat defisit sebanyak 2 kali di bulan Januari dan April.

2 gambaran yang diberikan dari satu data neraca dagang tersebut membuat IHSG melemah sementara rupiah menguat.

Hawa negatif bagi bursa saham dalam negeri bertambah setelah bursa saham AS (Wall Street) terus mengalami aksi jual usai pengumuman kebijakan moneter The Fed pada Kamis (17/9/2020) dini hari waktu Indonesia.

The Fed masih mempertahankan kebijakannya dan tidak memberikan stimulus tambahan. Di hari yang sama, Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan suku bunga sebesar 4%, akibatnya IHSG kembali melemah, rupiah dan SUN menguat.

Wall Street Turun 3 Pekan Beruntun
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading