Lelang SUN Tembus Rp 100 T Lagi, Waspada Pasar Koreksi!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
12 August 2020 07:35
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melalui Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan melaksanakan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa kemarin (11/8/2020).

Mengacu data DJPPR, lelang tersebut yakni untuk seri SPN03201112 (new issuance), SPN12210812 (new issuance), FR0086 (new issuance), FR0087 (new issuance), FR0080 (reopening), FR0083 (reopening) dan FR0076 (reopening) melalui sistem lelang Bank Indonesia.

Adapun total penawaran yang masuk sebesar Rp 106 triliun. Jumlah penawaran tersebut juga lebih tinggi dari lelang pada 28 Juli lalu yang mencapai Rp 72,78 triliun.


Dari penawaran yang masuk, total nominal yang dimenangkan dari tujuh seri yang ditawarkan tersebut adalah Rp 22 triliun.

Lelang tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia mengenai Burden Sharing.

"Lelang SUN pada hari ini [Selasa kemarin] merupakan lelang SUN pertama yang digunakan untuk pemenuhan pembiayaan Non-Public Goods, khususnya untuk belanja dan pembiayaan UMKM," tulis DJPPR.

Maximillianus Nicodemus, Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam risetnya mengatakan pasar obligasi kembali mencatatkan kenaikan meskipun terbatas.

Sesuai yang sudah di prediksikan, total penawaran mengalami kejutan karena mendatangkan total penawaran sebesar lebih dari Rp 100 triliun, dan perseroan berharap bahwa kenaikan harga obligasi dapat lebih tinggi dari yang seharusnya.

"Namun apa yang terjadi kemarin pun cukup membuat kita semua terperangah dan terpesona, meskipun total serapan masih Rp 22 triliun. Padahal kami cukup berharap banyak bahwa pemerintah setidaknya menyerap di atas Rp 25 triliun. Namun ternyata harapannya ketinggian, tapi tidaklah buruk berharap di tengah situasi dan kondisi seperti ini," katanya dalam riset, Rabu (12/8/2020).

Dia mengatakan, sayangnya, meskipun total penawaran yang masuk lebih besar dan dimenangkan lebih dari target indikatifnya, rupiah masih belum mendapatkan suntikan kekuatan. Hal ini yang memberikan Pilarmas keyakinan bahwa meskipun lelang pemerintah memberikan kejutan namun lebih kepada investor lokal yang bermain bukan asing.

"Memang sih cukup wajar investor asing masih belum tertarik, di tengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Namun sisi baiknya Rabu ini mungkin pasar akan ramai karena adanya seri baru yang diperdagangkan."

Dia mengatakan, memang benar, pemerintah memberikan kupon rendah seperti saat ini karena mengantisipasi adanya penurunan tingkat suku bunga oleh Bank Indonesia ke depannya.

"Kalau sekarang ya untuk menjaga daya tarik investor alangkah sebaiknya menurut kami diberikan kupon yang setidaknya cukup bersaing. Kita ambil contoh obligasi berdurasi 5 tahun saja, antara FR86 dan FR81 memiliki perbedaan kupon hampir 1%. Yang masih lumayan adalah obligasi berdurasi 10 tahun yang berbeda 50 bps [basis poin], dan kami melihat pelaku pasar dan investor masih akan mentolerasi hal tersebut.

Dia meyakini bahwa pemerintah memiliki pertimbangan tersendiri terkait hal tersebut, di satu sisi tentu hal tersebut memberikan keringanan beban bunga yang harus dibayarkan. Namun di sisi lain dengan rendahnya kupon akan membuat harga obligasi memiliki tingkat yang volatilitas lebih tinggi daripada biasa.

"Pagi ini pasar obligasi akan dibuka bervariasi dengan potensi melemah. Karena secara teknikal analisa potensi pelemahan sangat terbuka lebar meskipun tidak menutup kemungkinan pasar obligasi akan mengalami penguatan."

"Kami merekomendasikan wait and see dengan potensi beli apabila pergerakan melebihi 50 bps. Hati hati karena secara teknikal analisa pasar obligasi menunjukkan tanda tanda penurunan," kata Nicodemus.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading