Tenang! Meski Hari Ini Drop, Harga CPO Dalam Tren Naik

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
10 August 2020 11:19
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada awal pekan ini, Senin (10/7/2020) mengalami koreksi usai pekan lalu berada di level tertinggi dalam nyaris enam bulan.

Pada 10.26 WIB, harga CPO untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 0,98% ke RM 2.731/ton. Melansir data Refinitiv, sepanjang pekan ini CPO menguat 3,04% ke level 2.758 ringgit per ton.  


Kendati jatuh, para analis masih memandang positif tentang prospek harga CPO untuk beberapa bulan ke depan karena permintaan ekspor yang lebih kuat dan aktivitas restocking meningkat dari negara-negara pengimpor minyak sawit utama seperti India dan Cina.

Pemilik dan salah satu pendiri Analisis Minyak Sawit Dr Sathia Varqa mengatakan kepada Reuters, meski ekspor 17% lebih rendah pada paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, ada peningkatan yang kuat, terutama dari India.

Varqa mengatakan India meningkatkan pembelian pada bulan Juni karena negara itu mulai melakukan relaksasi lockdown. Ekspor Malaysia, terutama produk CPO, ke India diperkirakan tetap kuat selama sisa tahun ini setelah pemerintah Malaysia menurunkan pajak ekspor.

China juga akan beralih ke minyak sawit setelah impor kanola dan kedelai terjerat perselisihan perdagangan. Secara keseluruhan, ekspor Malaysia terlihat tidak berubah di angka 18,5 juta ton.

Lebih lanjut Varqa mengatakan, ini akan membuat stok sangat ketat mengingat produksi setahun penuh Malaysia diperkirakan mencapai 19 juta ton, atau 4,32% lebih rendah dari tahun lalu.

Kondisi cuaca yang buruk, kekurangan tenaga kerja dan berkurangnya penggunaan pupuk tahun lalu berdampak negatif terhadap produksi tahun ini.

Dia mengatakan kinerja yang kuat dari minyak kedelai dan minyak sawit, kenaikan harga kanola di China dan perselisihan diplomatiknya dengan Kanada dan Australia membantu mengangkat kontrak berjangka sawit, yang telah naik ke level tertinggi enam bulan di RM2.808 pada Selasa (4/8/2020) lalu.

Sebuah survei yang dilakukan oleh CGS-CIMB Futures mengungkapkan bahwa produksi minyak sawit bulan lalu kemungkinan turun tiga persen dibanding bulan sebelumnya, tetapi volume ekspor diproyeksikan naik enam persen yang secara signifikan melebihi rata-rata historis ekspor bulanan Juli sebesar 1,45 juta ton selama periode tersebut dalam 10 tahun terakhir.

CGS-CIMB Research mengatakan penguatan ekspor bisa jadi karena aktivitas restocking menyusul pelonggaran pembatasan pergerakan di seluruh dunia. Penguatan ekspor sebagian karena permintaan minyak sawit yang lebih kuat dari sektor hotel, restoran dan katering menjelang liburan hari raya.

"Mungkin juga ada beberapa kegiatan restocking oleh importir karena kekhawatiran atas potensi gelombang kedua pandemi Covid-19 dan pasokan yang lebih ketat karena kekurangan tenaga kerja di Malaysia dan kekhawatiran cuaca di Indonesia."

Perusahaan mengatakan rata-rata harga CPO naik 34% (yoy) menjadi RM2.519 per ton pada 20 Juli karena ekspor minyak sawit yang lebih kuat dari perkiraan yang diharapkan dapat mengimbangi peningkatan pasokan. 

Kenaikan ini juga didukung dengan penangguhan pajak ekspor CPO dari Juni hingga akhir tahun yang pada akhirnya meningkatkan daya saing minyak sawit Malaysia, katanya. "Kami memproyeksikan harga CPO diperdagangkan pada RM2.400 hingga RM2.800 per ton pada 20 Agustus," tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading