Erdogan Sebut Bunga Tinggi 'Setan', Turki Krisis Mata Uang

Market - suhendra, CNBC Indonesia
06 August 2020 20:03
Turkey's President Recep Tayyip Erdogan holds up a placard with what he says is a series of maps of historical Palestine, the 1947 United Nations partition plan on Palestine, the 1948-1967 borders between the Palestinian territories and Israel, and a current map of the Palestinian territories without Israeli-annexed areas and settlements, during a speech at the parliament, in Ankara, Turkey, Wednesday, Feb. 5, 2020. Erdogan denounced U.S. President Donald Trump's recent Middle East peace plan.(AP Photo/Burhan Ozbilici)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Turki, yaitu lira, menembus angka terlemahnya terhadap dolar AS pada hari ini. Investor disebut khawatir dengan kebijakan ekonomi pemerintah Turki. Selain itu, cadangan devisa negara ini juga terus menurun.

Dilansir dari AFP, Kamis (6/8/2020), lira diperdagangkan di 7,28 per dolar AS, atau turun 3%, dan ini disebut angka terendah sepanjang sejarah. Lira juga di titik terendah terhadap euro, yaitu 8,60 per euro.

Kejatuhan nilai mata uang lira terjadi karena makin turunnya cadangan devisa yang dimiliki bank sentral Turki. Selain itu, bank-bank milik pemerintah Turki juga dipaksa untuk menjual dolar AS demi menahan pelemahan lira.

Ekonomi negara ini juga terus melemah karena pandemi virus corona (Covid-19). Turki berusaha keras untuk pulih dari resesi yang dihadapinya.

Bank sentral Turki, yang dinilai sering ditekan oleh pemerintah sehingga dipertanyakan independensinya, telah menurunkan bunga acuan ke 8,25% dari 24% pada Juli tahun lalu.



Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berulang kali menyebut bahwa bunga rendah bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Bahkan AFP menulis, Erdogan pernah mengatakan, suku bunga tinggi adalah 'ibu dan bapak dari segala setan'.

Krisis mata uang di Turki terjadi sejak 2018, saat itu muncul ketegangan tensi politik antara Turki dengan NATO selaku sekutu Amerika Serikat (AS).

Selain krisis mata uang, kebijakan ekonomi Turki juga disebut Moody's mengancam pertumbuhan ekonominya. Lembaga pemeringkat itu memproyeksikan ekonomi Turki akan berkontraksi 5% pada tahun 2020, namun akan ada pemulihan yang relatif lambat sekitar 3,5% pada tahun 2021.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga memproyeksikan bahwa ekonomi Turki akan mengalami kontraksi 5% tahun ini, setelah tumbuh hanya 0,9% tahun lalu.



[Gambas:Video CNBC]

(wed/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading