Waduh! Bank Sentral Turki Disebut Idiot, Ada Apa?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 August 2022 11:50
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. AP/ Foto: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Turki (CBRT) mengejutkan pasar dengan memangkas suku bunga acuannya Kamis (18/8/2022) kemarin, di saat inflasi meroket dan nyaris menembus 80%.

Langkah CBRT terbilang unik. Lazimnya, ketika inflasi tinggi bank sentral akan menaikkan suku bunga. Bank sentral Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lainnya yang mengalami inflasi tinggi kini sangat agresif dalam menaikkan suku bunga.

Tetapi CBRT memiliki pendekatan yang berbeda. Suku bunga justru dipangkas sebesar 100 basis poin menjadi 13% kemarin.

"Langkah idiot lainnnya," kata Timothy Ash, ahli strategi pasar senior emerging market di BlueBay Asset Management, sebagaimana dilansir CNBC Internasional.
"Gila, dengan inflasi 80% dan masih terus menanjak, CBRT justru memangkas suku bunga 100 basis poin menjadi 13%," tambahnya.

Dalam pernyataannya pasca memangkas suku bunga, CBRT mengatakan "proses disinflasi sedang dimulai" dan ada beberapa sinyal "aktivitas ekonomi kehilangan momentum".

Sebenarnya bukan kali ini saja CBRT memangkas suku bunga saat inflasi sedang tinggi. Inflasi Turki pada Juli lalu tercatat melesat 79,6% year-on-year (yoy), tertinggi dalam 24 tahun terakhir.

Salah satu pemicunya adalah CBRT yang agresif membabat suku bunga pada akhir tahun lalu, saat inflasi sedang tinggi.

Alhasil, inflasi lebih tinggi dari suku bunga yang membuat nilai tukar lira jeblok ke rekor terlemah sepanjang sejarah. Inflasi pun semakin terakselerasi.

Beberapa bulan sebelum akhir 2022, CBRT memangkas suku bunga sebanyak 4 kali dengan total 500 basis poin.

Bukan tanpa alasan CBRT agresif memangkas suku bunga. Kebijakan tersebut bermula dari pandangan Presiden Recep Tayyip Erdogan jika suku bunga tinggi merupakan "biangnya setan". Erdogan mempercayai suku bunga tinggi malah akan memperburuk inflasi.

Banyak yang menyebut CBRT tidak punya independensi. Erdogan terus mengintruksikan suku bunga untuk dipangkas sejak tahun 2020 lalu. Gubernur CBRT yang tidak mengikuti instruksinya akan langsung dicopot.

"Jelas CBRT mendapat instruksi dari Presiden Erdogan, yang memiliki pandangan tidak lazim mengenai dasar "model ekonomi baru" dengan suku bunga rendah," kata Jason Tuvey, ekonom emerging market senior di Capital Economics di London.

Tuvey mengatakan Turki akan mendapat masalah yang lebih besar. Pemangkasan suku bunga diperkirakan akan memicu krisis mata uang lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Bensin Tembus Rp 24.000/liter, Turki Kena Hiperinflasi?


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading