Lira Turki Mata Uang Terlemah Dunia! Tolong, Mr Erdogan...

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
10 August 2022 12:08
Recep Tayyip Erdogan. AP/ Foto: Recep Tayyip Erdogan. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah hingga perdagangan jelang tengah hari ini. Namun dibandingkan mata uang lain, kinerja rupiah masih jauh lebih baik.

Pada Rabu (10/8/2022) pukul 11:00 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.873. Rupiah melemah 0,15% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Sepanjang 2022, depresiasi rupiah ada di 4,2% secara point-to-point. 

Meski begitu, kinerja rupiah masih lebih baik ketimbang mata uang negara-negara tetangga. Di level Asia, rupiah hanya kalah dari dolar Hong Kong yang hanya melemah 0,7% sepanjang 2022. Juga dolar Singapura yang terdepresiasi 2,1%.

Rupiah bahkan lebih baik ketimbang yuan China (-5,8%), rupee India (-6,4%), ringgit Malaysia (-6,6%), baht Thailand (-6,8%), hingga yen Jepang (14,8%). Oleh karena itu, boleh dibilang rupiah adalah salah satu mata uang terbaik di Benua Kuning.

Kalau rupiah masuk jajaran terbaik, manakah mana uang terlemah? Jawabannya adalah lira Turki.

Mengutip Reuters, mata uang Negeri Kebab sepanjang 2022 sudah melemah 25,7%. Di atasnya ada hryvnia Ukraina (-25,4%), peso Argentina (-23,1%), dan pound Mesir (-18%).

kursSumber: Reuters

Apa yang membuat lira begitu lesu? Ada beberapa penyebab. Pertama, inflasi Turki melesat gila-gilaan.

Pada Agustus 2022, inflasi Turki tercatat 79,6% year-on-year (yoy). Ini adalah rekor tertinggi sejak September 1998. Wow...

inflasiSumber: Refinitiv

Inflasi akan menggerus nilai tukar mata uang. Keuntungan yang didapat dengan berinvestasi di aset-aset berbasis lira langsung berkurang karena inflasi. Ini membuat kepercayaan terhadap lira semakin berkurang sehingga nilai tukarnya melemah.

Kedua, kebijakan moneter Turki yang tidak independen. Presiden Erdogan menegaskan sikapnya yang anti suku bunga tinggi. Menurut Erdogan, suku bunga tinggi adalah biangnya setan.

Ini yang membuat bank sentral Turki enggan menaikkan suku bunga acuan meski inflasi melonjak tajam. Sejak Desember 2021, suku bunga acuan ditahan di 14%, terendah sejak Oktober 2020.

Tanpa kenaikan suku bunga, plus inflasi yang tinggi, investor merasa tidak ada untungnya berinvestasi di aset-aset berbasis lira. Arus modal yang seret membuat nilai tukar lira kian jatuh.

rateSumber: Refinitiv

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Seperti Putin, Kebijakan Erdogan Bikin Lira 'Hancur'!


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading