Turki Hadapi Krisis Terburuk Sejak 2008, Ada Apa Mr Erdogan?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
21 December 2021 18:50
FILE PHOTO: A money changer counts Turkish lira bills at an currency exchange office in central Istanbul, Turkey, August 21, 2015. REUTERS/Murad Sezer/File Photo/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Turki mengalami krisis mata uang terburuk sejak tahun 2008. Hal itu terjadi setelah mata uang lira Turki anjlok lebih dari 50% sejak awal tahun ini.

Senin kemarin, lira turki terpuruk ke level TRY 18,3/US$, level terendah sepanjang sejarah.

Seorang pemandu wisata, Daniela Mircheva menyebut krisis ini sangat buruk dampaknya bagi orang-orang di Turki.


"Kami berada dalam situasi yang sama mungkin 10, 11, 12 tahun yang lalu," kata pria berusia 49 tahun itu, mengacu pada krisis keuangan global 2008. "Ini sangat sulit," katanya, seperti dikutip AFP, Selasa (21/12/2021).

Mata uang Turki ambles di bawah kebijakan Erdogan yang memangkas suku bunga dengan keyakinan, kebijakan itu akan menyembuhkan inflasi kronis di Turki.

"Lira Turki jatuh di bawah beban eksperimen ekonomi yang tidak biasa yang dilakukan Erdogan dalam upaya untuk meningkatkan dukungannya sebelum pemilihan yang dijadwalkan pada pertengahan 2023," tulis laporan tersebut.

Erdogan sebelumnya pernah bertaruh bahwa dengan harga lira yang murah akan menciptakan pertumbuhan yang didorong ekspor. Hal itu akan menempatkan Turki di jalur yang diikuti oleh China selama transformasi ekonomi dan sukses menarik jutaan orang keluar dari kemiskinan dan menciptakan kelas menengah baru.

Berbicara setelah pertemuan kabinet, Erdogan mengumumkan beberapa kebijakan yang akan meringankan beban lira Turki. Pemimpin yang sudah berkuasa selama 20 tahun ini mengatakan dengan kebijakan tersebut warga Turki tidak perlu mengonversi lira menjadi mata uang asing selama lira crash, termasuk memberikan jaminan deposito.

"Kami menghadirkan alternative keuangan bari bagi warga yang ingin meringankan kekhawatiran mereka saat melihat tabungan akibat kenaikan nilai tukar," kata Erdogan sebagaimana dilansir Reuters, Senin (20/12).

Setelah Erdogan "bersabda" sekitar US$ 1 miliar dilaporkan dijual di pasar, menurut kepala asosiasi perbankan Turki. Penjualan dolar AS tersebut menjadi indikasi pelaku pasar menutup posisi short.

Erdogan juga menyinggung mengenai pemangkasan suku bunga yang dilakukan Bank Sentral Turki (TCMB). Kebijakan TCMB yang agresif memangkas suku bunga saat inflasi tinggi menjadi pemicu jebloknya lira. Tetapi, menurut Erdogan, pemangkasan suku bunga pada akhirnya akan menurunkan inflasi.

Inflasi di Turki pada bulan November mencapai 21,31%year-on-year(yoy) melesat dari bulan sebelumnya 19,89% (yoy) dan menjadi yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Jebloknya nilai tukar lira menjadi salah satu pemicu inflasi tinggi semakin terakselerasi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Piye Mr Erdogan, Lira Turki Lagi-lagi Nyungsep Paling Dalam


(sys/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading