Jelang Lelang Sukuk Negara Besok, Beli atau Jual Obligasi?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
20 July 2020 07:48
Obligasi (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor obligasi direkomendasikan mengambil posisi Beli di pasar dengan catatan harga naik lebih dari 50 basis poin (bps) dengan volume yang kuat. Rekomendasi ini disarankan di tengah lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada Selasa besok (21/7/2020).

Jumat pekan lalu, harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia mengalami penguatan di tengah aksi penghindaran aset berisiko atau risk aversion setelah kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna menekan penyebaran Covid-19.

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas dan tim risetnya mengatakan di tengah situasi dan kondisi PSBB fase transisi yang diperpanjang, tentu saja hal tersebut memberikan sebuah gambaran bahwa ketidakpastian mengenai pemulihan perekonomian masih ada.


Oleh sebab itu, pelaku pasar dan investor melihat bahwa kompensasi imbal hasil yang diminta haruslah lebih tinggi dari yang sekarang.

Namun investor tidak perlu khawatir, katanya, pasalnya imbal hasil obligasi dengan tingkat suku bunga Bank Indonesia juga tidak boleh terpaut terlalu jauh, karena akan menyebabkan peralihan dana dari aset yang tidak beresiko untuk pindah ke obligasi.

Dengan demikian, dana pihak ketiga akan mengalami penurunan. Tentu hal tersebut tidak akan diinginkan oleh pasar, oleh sebab itu cepat atau lambat, nanti atau sekarang, pasar obligasi harus mengalami penurunan imbal hasil.

"Lalu kapan dong imbal hasil mengalami penurunan? Pasar obligasi sedang mencari alasan untuk mengalami kenaikan secara harga, karena kalau tidak ada angin dan hujan tiba tiba naik, tentu akan membuat pasar menjadi kaget," katanya bersama dua analisnya, Johan Trihantoro dan Okie Ardiastama.

"Adapun fokus selanjutnya apa? Sejauh ini arisan bank sentral sudah usai. Dari ketiga bank sentral, baru Bank Indonesia saja yang memberikan kejutan. Setelah arisan usai, lelang yang akan diadakan oleh pemerintah esok hari mungkin akan menjadi perhatian. Pelaku pasar dan investor di harapkan untuk berhati hati ya, karena saat ini sentimennya beraneka ragam," jelas mereka.

Dia mengatakan pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan potensi pergerakan naik dan turun 50 bps.

Apabila kebijakan investor untuk jangka panjang, maka saat ini mungkin saat yang tepat untuk membeli karena ada potensi kenaikan harga obligasi di sana.

"Kami merekomendasikan beli hari ini apabila mengalami kenaikan lebih dari 50 bps dengan volume yang kuat, dan nantikan lelang esok hari," jelasnya.

Pemerintah akan melakukan lelang Sukuk Negara pada Selasa, 21 Juli 2020. Seri yang akan dilelang adalah sebagai berikut; SPN-S 08012021, PBS-002, PBS-026, PBS-022, dan PBS-028. Target indikatif sebesar Rp 8 triliun.

Sentimen luar negeri, datang dari Eropa. "Pada akhirnya akhir pekan yang panjang kemarin masih belum memberikan hasil apa apa terkait dengan usaha Uni Eropa untuk memberikan persetujuan kepada paket stimulus senilai 750 miliar euro atau $856 miliar," jelas mereka.

Menurut Pilarmas, tidak ada hasil atas kesepakatan tersebut disebabkan terlalu banyak perbedaan pendapat mengenai seberapa banyak dana tersebut harus di distribusikan, dan setelah didistribusikan, pinjaman tersebut harus diberikan sebagai hibah atau pinjaman berbunga rendah.

"Kami bingung sebetulnya, hanya karena masalah tersebut, kesepakatan masih belum dapat diselesaikan. Padahal Eropa membutuhkan dana bantuan tersebut segera ditengah situasi dan kondisi yang mulai kembali menekan perekonomian akibat virus corona."

Di sisi lain, sentimen lain datang dari Jamie Dimon, seorang pemimpin dari salah satu bank terbesar di Amerika, JP Morgan Chase yang mengatakan bahwa dirinya sedang mencoba untuk mengamati perekonomian Amerika seperti mengintip ke dalam lobang sumur yang gelap, yang tidak tahu seberapa dalam lobang tersebut.

Dimon mengatakan bahwa dalam resesi normal yang terjadi adalah penggangguran mengalami peningkatan, angka kejahatan mengalami kenaikan, biaya hidup naik, dan harga rumah mengalami penurunan.

Sejauh ini JP Morgan sudah memperoleh pendapatan terbesarnya pada kuartal kedua sebesar $33.8 miliar, sebagian besar didapatkan dari aktivitas perdagangan dan penggunaan utang serta ekuitas.

"Sejauh ini JP Morgan telah melihat setidaknya kurang dari 5 kemungkinan ekonomi akan mengalami situasi dan kondisi yang berbeda, dan salah satunya adalah perusahaan akan menjadi lebih pesimis, dan tingkat pengangguran juga akan mencapai 11% pada akhir tahun ini, dan ada potensi bahwa akan mengalami peningkatan sebanyak 4.3% lebih buruk dari bulan April lalu," tulis Pilarmas.

Data Refinitiv menunjukkan pada pekan lalu, penguatan harga surat utang negara (SUN) tercermin dari empat seri acuan (benchmark). Keempat seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun dan FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat hari ini adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 4,00 basis poin (bps) menjadi 6,288%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang, sehingga ketika harga naik maka akan menekan imbal hasil (yield) turun, begitupun sebaliknya. Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Perbandingan Yield SBN RI 17 Juli 2020

Yield Obligasi Negara Acuan 17 Juli'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 16 Juli'20 (%)

Yield 17 Juli'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 17 Juli'20 (%)

FR0081

5 tahun

6.328

6.288

-4.00

6.2581

FR0082

10 tahun

7.067

7.043

-2.40

7.0432

FR0080

15 tahun

7.554

7.518

-3.60

7.4879

FR0083

20 tahun

7.588

7.561

-2.70

7.5378

Sumber: Refinitiv


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading