Emas Dunia Dekati US$ 1.800 & Antam Rp 849.120, Buy or Sell?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 June 2020 16:32
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia sudah semakin dekat dengan US$ 1.800/troy ons, meski mengalami koreksi pada perdagangan Rabu kemarin.

Penurunan harga emas kemarin mengikuti pergerakan bursa saham yang ambrol setelah Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini.

Berdasarkan data Refinitiv, emas mengakhiri perdagangan di US$ 1.761,43/troy ons, melemah 0,27% di pasar spot. Sementara pada hari ini, Kamis (25/6/2020) pukul 15:03 WIB, emas menguat 0,26% ke US$ 1.765,98/troy ons. 


Penurunan harga emas dunia tersebut juga berdampak pada harga emas Antam yang pagi ini melemah Rp 9.000/gram, menjadi Rp 849.120/gram, untuk emas batangan 100 gram yang yang biasanya dijadikan acuan perdagangan.

Pergerakan harga emas dunia merupakan salah satu faktor yang menentukan harga emas Antam. Ketika harga emas dunia naik, emas Antam juga cenderung ikut terkerek, dan sebaliknya.

Emas merupakan aset yang menyandang status safe haven, saat bursa saham global mengalami aksi jual, emas seharusnya menjadi alternatif investasi dan harganya akan menguat.

Tetapi belakangan ini, pergerakan emas justru mengikuti pergerakan bursa saham, apalagi saat diterpa aksi jual, emas pun turut melemah.

Direktur global trading Kitco Metals Peter Hug, mengatakan koreksi yang terjadi di bursa saham tidak serta merta akan mengangkat harga emas dalam kondisi pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) saat ini yang menyebabkan pelambatan ekonomi bahkan resesi global.

"Saya pikir itu (koreksi pasar saham) tidak akan menjadi bullish bagi emas. Saya pikir reaksi awal emas akan ikut melemah karena orang-orang mulai panik dan memilih memegang uang kas," tambahnya.

Pergerakan tersebut pernah terjadi di bulan Maret, saat bursa saham diterpa aksi jual masif, emas justru ikut ambrol, saat itu muncul jargon "cash is the king".

Meski demikian, outlook emas masih positif ke depannya. Dari sekian banyak prediksi analisis yang berseliweran di pasar, mayoritas memprediksi harga emas akan terus menguat hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Emas dunia saat ini semakin dekat dengan level psikologis US$ 1.800/troy ons. Level tersebut menjadi perhatian bagi Bank of Amerika (BofA), yang bisa menentukan apakah emas akan melesat naik lagi hingga mencetak rekor tertinggi.

Dalam riset yang dikutip oleh Kitco, analis BofA melihat level US$ 1.800/troy ons merupakan level yang penting. Sejak emas turun dari rekor tertinggi sepanjang masa US$ 1.920/troy ons pada September 2011 lalu, emas dikatakan sudah 3 kali mencoba kembali ke atas US$ 1.800/troy ons tetapi gagal.
Sehingga kali ini, jika mampu dilewati emas punya peluang untuk mencetak rekor tertinggi sepanjang masa baru. BofA menargetkan emas mencapai US$ 2.000/US$ di kuartal III-2020.

Dengan demikian, jika melihat prediksi BofA tersebut saat yang tepat membeli emas adalah ketika mampu breakout level psikologis US$ 1.800/troy ons. Jika itu terjadi, harga emas Antam tentunya akan ikut terkerek naik.

 

Prediksi Harga Emas Dunia: dari US$ 2.000 Hingga US$ 10.000/troy ons
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading