Ramai-ramai Suntik Maskapai Global, Nasib Garuda Cs Gimana?

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
12 June 2020 07:05
FILE PHOTO: Garuda Indonesia planes are seen on the tarmac of Terminal 3, Soekarno-Hatta International Airport near Jakarta, Indonesia April 28, 2017. REUTERS/Darren Whiteside

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 benar-benar menghantam sektor penerbangan dan jasa pendukungnya. Maskapai-maskapai global hingga perusahaan penerbangan dalam negeri pun dibuat tak berdaya, pendapatan anjlok karena karantina wilayah, perusahaan pun melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena beban meningkat.

Melihat kondisi ini, pemerintah sejumlah negara pun turun tangan ikut berupaya mempertahankan kelangsungan usaha maskapai penerbangan dengan memberikan dana talangan (bailout).

Berikut beberapa maskapai yang berupaya bertahan dan mendapatkan dana talangan dari pemerintah.


Cathay Pacific

Pada 9 Juni lalu, pemerintah Hong Kong mengungkapkan akan mengucurkan paket dana talangan sebesar HK$ 30 miliar atau setara dengan Rp 54,33 triliun (asumsi kurs Rp 1.811/HKD) untuk menyelamatkan maskapai penerbangan Cathay Pacific Airways. Suntikan dana itu akan memberikan jatah pemerintah dua kursi di dewan pengawas atau komisaris.

Menurut laporan South China Morning Post, kesepakatan bailout itu mencakup pinjaman pemerintah dan penyertaan saham. Bailout ini juga menjadi bagian dari restrukturisasi modal senilai HK$ 40 miliar (Rp 72,3 triliun) guna membantu maskapai tersebut dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Di bawah rencana penyelamatan Cathay ini, pemerintah Hong Kong akan membeli saham preferen (saham dengan hak suara terbatas) senilai HK$ 19,5 miliar sehingga akan memberikan 6% saham perusahaan, dan mendapatkan waran (pemanis saat membeli saham) senilai HK$ 1,95 miliar yang bisa dieksekusi di kemudian hari.

FILE PHOTO: A passenger walks to the First Class counter of Cathay Pacific Airways at Hong Kong Airport in Hong Kong, China April 4, 2018. REUTERS/Bobby YipFoto: REUTERS/Bobby Yip
FILE PHOTO: A passenger walks to the First Class counter of Cathay Pacific Airways at Hong Kong Airport in Hong Kong, China April 4, 2018. REUTERS/Bobby Yip

Selain itu, bantuan ini juga berupa pinjaman jangka pendek (bridging loan) dari pemerintah senilai HK $ 7,8 miliar yang akan memberikan dua kursi dewan komisaris di Cathay.

Kesepakatan tersebut juga termasuk penerbitan saham baru atau rights issue senilai HK $ 11,7 miliar. Dana ini akan diserap oleh pemegang saham lama yang dipimpin oleh Swire Pacific Ltd dan Air China Ltd. Saham Swire sudah dihentikan sementara pada Selasa pagi bersamaan dengan pengumuman Cathay ini.

Cathay menjelaskan Swire memegang 45% saham, Air China 30% dan Qatar Airways dengan rencana menyerap 10% saham baru untuk berpartisipasi dalam rights issue tersebut. Dengan menyerap sebagian saham baru, maka kepemilikan mereka akan turun atau terdilusi menjadi 42%, 28% dan 9,4% sesudah penerbitan saham baru ini.

Cathay sudah mendaratkan (grounded) sebagian besar pesawat akibat turunnya permintaan penerbangan di tengah aturan pembatasan perjalanan terkait virus corona. Sejauh ini, Cathay hanya menerbangkan pesawat kargo, dan penumpang ke tujuan utama seperti Beijing, Los Angeles, Singapura, Sydney, Tokyo, dan Vancouver.

Bulan lalu, Cathay membukukan kerugian yang tidak diaudit sebesar HK$ 4,5 miliar dari bisnis maskapai full-service Cathay dan Dragon selama periode Januari-April.

Maret lalu, Cathay juga menjual enam jet Boeing 777-300ER dan peralatan terkait senilai US$ 703,8 juta kepada BOCAviation Ltd. Menurut analis Morningstar, Ivan Su penjualan ini akan mencakup lebih dari setengah proyeksi arus kas keluar pada tahun 2020.

Singapore Airlines

Pada 27 Maret lalu, Singapore Airlines Ltd mengungkapkan sudah mendapatkan dana talangan hingga S$ 19 miliar (US$ 13 miliar) atau setara Rp 182 triliun (kurs Rp 14.000/US$) untuk membantu maskapai ini keluar dari dampak pandemi Covid-19.

Reuters melaporkan, dana talangan ini adalah satu-satunya paket pembiayaan terbesar yang diumumkan oleh sebuah maskapai penerbangan karena terdampak permintaan yang ambles akibat pandemi.

SQFoto: Singapore Airlines
SQ

Pemegang saham mayoritas Singapore Airlines, Temasek Holdings, mengungkapkan akan menyerap penjualan saham perusahaan dan obligasi konversi yang diterbitkan maskapai tersebut hingga S$ 15 miliar. Selain itu, bank terbesar di Singapura, DBS Group Holdings Ltd juga memberikan pinjaman sebesar S$ 4 miliar.

"Transaksi ini tidak hanya akan membuat SIA bisa menghadapi kendala likuiditas keuangan dalam jangka pendek, tetapi bisa menunjang pertumbuhan bisnis setelah pandemi," kata Kepala Eksekutif Internasional Temasek, Dilhan Pillay Sandrasegara, dilansir Reuters.

"Pengiriman pesawat generasi baru dalam beberapa tahun ke depan akan memberikan efisiensi bahan bakar yang lebih baik serta memenuhi strategi ekspansi perusahaan," tegasnya.

Sebelumnya, Singapore Airlines atau SIA Group sudah memangkas 96% kapasitas penerbangannya hingga akhir April, mengikuti langkah yang dilakukan sejumlah maskapai penerbangan global yang juga memangkas kapasitas karena coronavirus yang menyebar cepat dan membuat permintaan perjalanan anjlok.

Dalam pernyataan resmi, dikutip Bloomberg, perusahaan akan mengkandangkan (grounded) 138 dari 147 unit pesawat Singapore Airlines dan unit bisnisnya yang lain yakni SilkAir. Adapun divisi penerbangan berbiaya murah atau LCC (low cost carrier) yakni Scoot juga mendaratkan 47 dari 49 pesawatnya.

"Tidak jelas kapan SIA Group dapat mulai melanjutkan layanan penerbangan secara normal, mengingat ketidakpastian kapan kontrol terhadap perbatasan yang ketat akan dicabut," tulis pernyataan tersebut.

Singapore Airlines akan menunda pengiriman pesawat dan mengurangi gaji dalam upaya mengurangi biaya.

Dari Lufthansa hingga Maskapai AS
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading