9 Emiten Terimbas Covid: PHK, Potong Gaji, & Rumahkan Pekerja

Market - Redaksi, CNBC Indonesia
02 June 2020 09:20
Ramayana (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah emiten sudah menyampaikan ke publik dampak dari pandemi virus corona (covid-19) terhadap operasional perusahaan. Beberapa emiten mulai merumahkan karyawan, memotong gaji dan insentif serta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Emiten-emiten yang terdamapak oleh virus corona tersebut dari bermacam-macam industri. Mulai dari makanan cepat saji, ritel, transportasi, properti hingga konstruksi.

CNBC Indonesia merangkum emiten apa saja yang terkena dampak dari virus corona tersebut, berdasarkan laporan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI):


1. PT Fast Food Indonesia Tbn (FAST)
Perusahaan pemegang merek waralaba ayam goreng KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) beberapa waktu lalu menyampaikan informasi kepada BEI, bahwa operasional perusahaan terkena dampak pandemi Covid-19. Sebelumnya KFC telah melaporkan penutupan 100 gerai dan merumahkan 450 pekerja.

Jumlah karyawan yang dirumahkan mencapai 4.988 orang, atau sekitar 29% dari total karyawan tetap dan tidak tetap yang berjumlah 17.216 orang. Sedangkan total karyawan tetap perseroan 16.962 orang. Namun, perseroan menegaskan tak ada pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Terdapat 115 gerai Perseroan yang ditutup karena mal yang berhenti, atau plaza dinyatakan harus tutup karena dampak COVID-I9 di berbagai kota di Indonesia bukan hanya di Jakarta," kata perseroan dikutip Kamis (21/5).

Selain itu, ada 4847 karyawan yang juga terdampak dengan pemotongan gaji sampai 50%. FAST memperkirakan penurunan pendapatan dan laba akibat dampak pandemi covid-19 sebesar 25-50%.



2. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS)
Peritel PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga menyampaikan keterbukaan informasi terkait dampak Covid-19. Manajemen RALS menyatakan jumlah karyawan tetap dan tidak tetap hingga saat ini mencapai 5.475 orang.

Suryanto, Direktur Keuangan Perseroan RALS, mengatakan pandemi Covid-19 berdampak pada pembatasan operasional hampir di seluruh bisnis department store selama bulan April-Mei. Jangka waktu pembatasan tersebut diprediksi memakan waktu antara 3 bulan.

"Kontribusi pendapatan dari kegiatan operasional yang terhenti dan/atau mengalami pembatasan operasional tersebut terhadap total pendapatan (konsolidasi) tahun 2019 diprediksi antara 25-30%," katanya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (27/5/2020).

Dia mengungkapkan perkembangan jumlah karyawan perusahaan. Per 31 Desember 2019, jumlah karyawan (tetap dan tidak tetap) sebesar 5.896, sementara hingga saat ini jumlah karyawan tetap dan tidak tetap mencapai 5.475 orang, artinya berkurang 421 orang sejak Desember 2019.

"Jumlah karyawan PHK [pemutusan hubungan kerja] sebanyak 421 orang periode Januari hingga saat ini. Tak ada karyawan yang dirumahkan, sementara jumlah karyawan yang terdampak dengan status lainnya [misalnya pemotongan gaji 50%], ada 2.700 orang," jelas Suryanto dalam surat kepada BEI tersebut.

Pihaknya memprediksi terjadi penurunan laba bersih pada periode 31 Maret-April 2020 sekitar 75% dari periode yang sama tahun lalu.

[Gambas:Video CNBC]


Strategi perusahaan ke depan ialah mendorong penjualan secara online (melalui website, WA, dan partner e-commerce) dan fokus pada penjualan supermarket.

Sebelum Lebaran, dalam pengumuman resmi Ramayana di akun resmi Twitter, @ramayanaads, disebutkan Ramayana resmi membuka 105 toko terutama di Jawa, dengan membuka juga layanan pesan antar.

Terkait dengan PHK ini, Suryanto menegaskan perusahaan akan kembali memperkerjakan kembali 87 karyawan yang sudah di-PHK tersebut apabila gerai Ramayana Depok sudah beroperasi normal.


Asia Pacific Fibers & AirAsia Indonesia
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading