Awal Pekan, Kurs Poundsterling di Bawah Rp 18.000/GBP

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 May 2020 18:32
FILE PHOTO: Wads of British Pound Sterling banknotes are stacked in piles at the Money Service Austria company's headquarters in Vienna, Austria, November 16, 2017. REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling menguat melawan rupiah pada perdagangan Senin (18/5/2020), tetapi masih di bawah Rp 18.000/GBP dan berada di level terendah 2 bulan. Posisi poundsterling tersebut membuat menguat akibat koreksi teknikal hari ini.

Pada pukul 17:35 WIB, GBP 1 setara Rp 17.976,66, poundsterling menguat 0,15% di pasar spot melansir data Refinitiv. Di awal perdagangan hari ini, poundsterling sempat melemah 0,26% di Rp 17.904,26/GBP yang merupakan level terlemah sejak 19 Maret lalu.

Mata uang Inggris kembali ke bawah Rp 18.000/GBP pada Jumat (15/5/2020) pekan lalu setelah merosot lebih dari 1%. Total sepanjang bulan Mei hingga Jumat pekan lalu, poundsterling melemah 3,84%.


Poundsterling saat ini sedang tertekan akibat perekonomian Inggris yang diprediksi akan mengalami kontraksi terburuk dalam tiga abad terakhir, kemudian suku bunga negatif, risiko Brexit, hingga fenomena sell in May.



Office for National Statistic Rabu (13/5/2020) melaporkan PDB Inggris berkontraksi alias minus 2% di triwulan I-2020 dibandingkan triwulan IV-2019. Kontraksi tersebut menjadi yang terdalam sejak krisis finansial global 2008. Meski demikian rilis tersebut masih lebih baik ketimbang prediksi Reuters minus 2,5%.

Di triwulan II-2020, perekonomian Inggris diprediksi lebih suram lagi. Pada Kamis (7/5/2020) pekan lalu, Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memberikan "skenario ilustratif" perekonomian Inggris di tahun ini, yang diprediksi menjadi yang terburuk dalam lebih dari 300 tahun terakhir.

Sepanjang triwulan II-2020, pertumbuhan ekonomi Inggris diprediksi minus alias berkontraksi 25%. Dampaknya sepanjang tahun 2020 kontraksi diramal sebesar 14%, atau yang terburuk sejak tahun 1706, berdasarkan data historis yang dimiliki BoE.

Sementara itu Wakil Gubernur BoE, Ben Broadbent, mengatakan ada kemungkinan suku bunga negatif akan diterapkan saat rapat dewan gubernur selanjutnya.

"Para komite pembuat kebijakan (Monetary Policy Committee/MPC) siap melakukan apapun yang diperlukan karena risiko kemerosotan ekonomi masih ada," kata Broadbent sebagaimana dilansir CNBC International.

"Ya, sangat mungkin pelonggaran moneter (suku bunga negatif) diperlukan saat itu," ujarnya.

Sementara itu, di tengah kemerosotan ekonomi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19), Inggris harus menyelesaikan perundingan Brexit dengan Uni Eropa.

Saat ini, Inggris dalam masa transisi Brexit yang akan berlangsung hingga akhir tahun ini, dan Pemerintah Inggris sejauh ini menolak untuk memperpanjang masa transisi. Jika kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan, maka Inggris akan keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun, yang dikhawatirkan membawa ekonomi Inggris semakin merosot.

Selain itu, poundsterling juga dibayangi fenomena sell in May, yakni poundsterling selalu melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) setidaknya dalam 10 tahun terakhir di bulan Mei.



Data menunjukkan pada periode 2010-2019 poundsterling selalu melemah di bulan Mei. Pelemahan terbesar terjadi di Mei 2012 ketika mata uang Negeri Ratu Elizabeth ini ini merosot 5,1%. Sementara pelemahan terkecil terjadi pada Mei 2015 sebesar 0,4%.

Poundsterling saat ini menguat 0,21% ke US$ 1,2130, tetapi sekali lagi penguatan tersebut akibat koreksi teknikal. Sepanjang bulan Mei hingga Jumat pekan lalu, the cable sudah melemah 3,88% dan berada di level terendah sejak 26 Maret.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]





(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading