Efek Covid-19

PDB RI Bisa Minus 0,5%, Waspadai Sektor-sektor Ini

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
11 May 2020 11:18
Ilustrasi PSBB. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 untuk skenario paling pesimistis atau berat akan minus 0,5%. Hal ini mempertimbangkan risiko dari pandemi Covid-19 yang menyebabkan perekonomian dalam negeri terguncang.

Head of Economy Research Pefindo Fikri C Permana menyebutkan, pada skenario berat itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan turun sangat tajam menjadi minus 0,3% dari posisi akhir 2019 di level 5,04%.

Akan tetapi konsumsi pemerintah meningkat menjadi 12,5% dari sebelumnya 3,25% karena penyaluran bantuan sosial.

Indikator lainnya, investasi akan minus 2,4%, pun demikian dengan ekspor barang dan jasa yang terkoreksi 3,8% dan impor barang dan jasa, turun 3,8%.


"Pengeluaran konsumsi rumah tangga akan sangat tertekan. Hal ini akan mengubah cara mereka konsumsi, sektor produksi akan berubah," kata Fikri Permana, Jumat (8/5/2020).

Jika dilihat lebih rinci secara sektoral, kata Fikri, sektor pertambangan akan memiliki risiko yang cukup besar. Disusul sektor perdagangan, hotel, dan restoran, memiliki risiko tertinggi karena turunnya pendapatan cukup drastis selama kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Outlook Pefindo 8 Mei 2020Foto: Outlook Pefindo 8 Mei 2020
Outlook Pefindo 8 Mei 2020


Selain itu, sektor yang juga akan mengalami tekanan berat adalah industri pengolahan. "Ini akan mendorong penurunan pertumbuanekonomi," katanya.

Sedangkan, sektor lainnya seperti listrik, gas, keuangan, jasa angkutan dan komunikasi diperkirakan akan kembali stabil setelah berakhirnya pandemi.

Tidak jauh berbeda, sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan, pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi pada skenario paling berat akan minus 0,4%. Hal ini terefleksi dari kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 yang hanya tumbuh 2,97% karena terjadi penurunan konsumsi rumah tangga yang cukup dalam.



"Kita melihat ekonomi di kuartal II dan kemungkinan pada kuartal III. Sehingga kemungkinan masuk skenario sangat berat mungkin terjadi dari 2,3% menjadi minus 0,4%," kata Sri Mulyani saat rapat dengan Komisi XI secara virtual, Rabu (6/5/2020).

Bendahara negara ini melanjutkan, dampak dari kebijakan PSBB yang sudah meluas pasti akan menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020.

"PDB kita adalah konsumsi lebih dari Rp 9000 triliun adalah konsumsi dan PDB di Jakarta dan Jawa memiliki porsi 55%. Sementara saat ini Jakarta dan Jawa melakukan PSBB, konsumsi sudah pasti tidak tumbuh dan akan kontraksi," jelas Sri Mulyani.


[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

Risiko Mencuat, Pefindo Pangkas Rating Tiphone & Obligasinya


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading