Premi CDS Naik, Minat Investor Borong Obligasi RI Susut

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
05 May 2020 18:39
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia pada hari ini, Selasa (5/5/2020) melemah di tengah meningkatnya premi credit default swap (CDS) bertenor 5 tahun.

Persepsi investor terhadap risiko investasi di Indonesia terpantau memburuk yang ditunjukkan dengan peningkatan premi CDS bertenor 5 tahun yang selama sepekan berjalan (week to date/wtd) naik 6,58% pada Selasa ini ke level 224,06 dari posisi 30 April 2020 yakni di level 210,22.

Kenaikan CDS Indonesia tak lepas dari gejolak di pasar saham dan pasar modal, akibat pandemi virus corona (Covid-19). 
Ketika premi CDS suatu negara meningkat, maka pasar derivatif mengasumsikan bahwa risiko berinvestasi atau risiko memegang surat utang di negara tersebut juga meningkat.

Data Refinitiv menunjukkan penurunan harga surat utang negara (SUN) itu tercermin dari tiga seri acuan (benchmark). Ketiga seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0083 bertenor 20 tahun, sementara FR0080 bertenor 15 tahun mengalami penguatan.

Seri acuan yang paling melemah hari ini adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan kenaikan yield 16,8 basis poin (bps) menjadi 7,462%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.  Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 5 Mei'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 4 Mei'20 (%)

Yield 5 Mei'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 5 Mei'20 (%)

FR0081

5 tahun

7.294

7.462

16.80

7.4589

FR0082

10 tahun

7.892

8.017

12.50

8.0351

FR0080

15 tahun

8.154

8.146

-0.80

8.1413

FR0083

20 tahun

8.089

8.167

7.80

8.1528

Sumber: Refinitiv

 

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) juga turun. Indeks tersebut turun 1,04 poin (0,39%) menjadi 264,71 dari posisi kemarin 265,75.

Penurunan di pasar surat utang hari ini tidak senada dengan penguatan rupiah di pasar valas. Pada Selasa (5/5/2020), Rupiah menguat 0,13% dari penutupan sebelumnya. Kini US$ 1 dibanderol Rp 15.030/US$ di pasar spot.

Selain itu, pada Selasa ini, pemerintah melakukan lelang lima seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) guna memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2020.

Target indikatif pada lelang hari ini sebesar Rp 8 triliun, permintaan yang masuk senilai Rp 18,11 triliun, dan pemerintah memenangkan sebesar Rp 5,55 triliun dari lima seri tersebut, mengacu data DJPPR Kementerian Keuangan.

 


Sementara itu, pemerintah membuka opsi lelang tambahan atau greenshoe option pada hari Rabu besok (6/5/2020) untuk lelang SBSN. Harga tidak berubah, sama seperti lelang perdana.

Mengacu dari hasil lelang yang masuk, investor masih cukup optimis terhadap aset pendapatan tetap (fixed income) ini. Hal tersebut terlihat dari pencapaian permintaan yang melewati target maksimal yang diproyeksikan pemerintah.

Artinya minat investor terhadap obligasi pemerintah masih cukup baik, dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 2,3 kali.

Sementara pada lelang Surat Utang Negara (SUN) Selasa lau (28/4/2020) terjadi oversubscribed sebanyak 2,2 kali, yang tercermin dari permintaan yang masuk senilai Rp 44,399 triliun  dengan target indikatif Rp 20 triliun.

 

Hasil Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

05-May-20

Seri

 

 

 

 

 

SPNS06112020

PBS002

PBS026

PBS007

PBS005

Jatuh tempo

06-Nov-20

15-Jan-22

15-Oct-24

15-Sep-40

15-Apr-43

Yield rerata tertimbang

 

6.197%

7.409%

8.443%

 

Penawaran masuk

0,650

4,893

4,997

6,2886

1,2858

Sumber : djppr.kemenkeu.go.id

 

 

Obligasi RI Jadi Yang Terburuk

Koreksi harga SUN senada dengan pelemahan di pasar surat utang pemerintah negara maju dan berkembang lainnya, meski bervariasi. Di antara pasar obligasi negara yang dikompilasi Tim Riset CNBC Indonesia, SBN tenor 10 tahun menjadi yang terburuk.

Dari pasar surat utang negara maju dan berkembang terpantau bervariasi, yang mengalami variatif tingkat yield. Sementara surat utang negara yang paling menguat yaitu obligasi Afrika Selatan yang mengalami penurunan tingkat yield  31,5 basis poin (bps).

Hal tersebut mencerminkan investor global enggan masuk obligasi pemerintah di tengah risiko investasi di Indonesia terpantau memburuk yang tercermin dari peningkatan premi CDS.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 4 Mei'20 (%)

Yield 5 Mei'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

7.58

7.7

12.00

China (A+)

2.56

2.56

0.00

Jerman (AAA)

-0.574

-0.541

3.30

Prancis (AA)

-0.074

-0.043

3.10

Inggris Raya (AA)

0.227

0.233

0.60

India (BBB-)

6.084

6.074

-1.00

Jepang (A)

-0.015

-0.015

0.00

Malaysia (A-)

2.872

2.793

-7.90

Filipina (BBB)

3.391

3.311

-8.00

Rusia (BBB)

6.14

6.08

-6.00

Singapura (AAA)

0.881

0.891

1.00

Thailand (BBB+)

1.18

1.16

-2.00

Amerika Serikat (AAA)

0.601

0.67

6.90

Afrika Selatan (BB+)

10.25

9.935

-31.50

Sumber: Refinitiv

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]




(har/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading