Lapkeu Q1 Mulai Ramai, Hingga S&P Pangkas Prospek Bank BUMN

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
30 April 2020 08:39
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir perdagangan kemarin ditutup menguat 0,83% ke level 4.567,32. Terjadi pergerakan variatif di sektor perbankan dan lonjakan saham emiten telekomunikasi.

Investor asing masih lebih memilih posisi jual bersih (net sell) dengan nilai total Rp 401,7 miliar di semua pasar, cenderung bertambah jika dibandingkan dengan net sell penutupan sesi satu (Rp 199,9 miliar).

Secara total, nilai transaksi bursa menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 6,05 triliun, dengan volume saham sebanyak 5,82 miliar unit dan transaksi sebanyak 460.789 kali.


Simak beberapa peristiwa yang mewarnai perdagangan saham kemarin, yang bisa menjadi pertimbangan untuk trasaksiĀ hari ini.

1. Laba Unilever Naik 6,5% Jadi Rp 1,7 T, Tapi Saham Turun 4,76%
PT Unilever Indonesia Tbk pada kuartal I-2020 masih bisa membukukan kenaikan laba bersih, meskipun ekonomi Indonesia sedang menghadapi pelemahan dampak dari virus corona (Covid-19).

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2020 yang dipublikasikan perseroan hari ini, laba bersih tercatat mengalami kenaikan 6,53% menjadi Rp 1,86 triliun. Pada periode yang sama 2019, perseroan membukukan laba bersih Rp 1,75 triliun.

Dalam laporan keuangan tersebut juga disebutkan, penjualan bersih kuartal I-2020 mencapai Rp 11,15 triliun. Nilai tersebut naik 4,5% dibanding akhir Maret 2019 yang tercatat Rp 10,66 triliun.

2. S&P Pangkas Prospek Mandiri, BRI & BNI Jadi Negatif
Lembaga pemeringkat global, S&P Global Ratings merevisi outlook (prospek) peringkat tiga bank papan atas Tanah Air yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menjadi 'Negatif' dari 'Stabil'.

Dalam pernyataan resminya pada Selasa (29/4/2020), penurunan prospek tiga bank BUMN ini adalah karena meningkatnya risiko ekonomi dalam sistem perbankan Indonesia di tengah pandemi virus corona (Covid-19), yang dapat melemahkan profil kredit bank-bank ini.

3. Habis PHK Karyawan, KFC Janji Buka 25 Gerai Baru Usai Corona
Emiten pengelola restoran cepat saji KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) memutuskan untuk menunda rencana ekspansi gerai akibat dampak dari pandemi virus Corona (Covid-19).

Direktur Fast Food Indonesia, Justinus Dalimin Juwono menjelaskan, nantinya perseroan akan membuka gerai kembali setelah kondisi berjalan normal. Pada rencana awal, perseroan menganggarkan belanja modal Rp 550 miliar untuk membangun setidaknya 25 gerai baru dan merenovasi 150 gerai yang sudah ada.

4. Q1 Laba Gudang Garam Bisa Naik 4%, tapi Sahamnya Drop 15%
Produsen rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) pada akhir Maret 2020 mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 3,87% secara year on year (YoY). Perusahaan asal Kediri, Jawa Timur ini mencatatkan laba bersih senilai Rp 2,44 triliun di tiga bulan pertama tahun ini, naik dari Rp 2,35 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, kenaikan laba bersih ini mendongkrak kenaikan laba bersih per saham dari sebelumnya senilai Rp 1.224 naik menjadi Rp 1.272.

5. Garuda Punya Utang Jatuh Tempo Juni Rp 7,7 T
Maskapai penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), menyebutkan tengah mengalami masalah terkait dengan keuangan lantaran utang jatuh tempo pada Juni 2020 mendatang mencapai US$ 500 juta atau setara dengan Rp 7,75 triliun (asumsi kurs Rp 15.500/US$).

"Kami berupaya relaksasi keuangan, [kami] punya sedikit masalah, Juni ini [utang] jatuh tempo 500 juta dolar, sehingga kami membutuhkan bantuan keuangan dan relaksasi," kata Direktur Utama Garuda Irfan Setiaputra, dalam konferensi virtual di Jakarta, Rabu (29/4/2020).



6. Cetak Laba Rp 443 M di Q1, Saham INCO Sudah Ambles 35%
Perusahaan pertambangan nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berhasil mencatatkan laba tahun berjalan senilai US$ 28,95 juta atau setara dengan Rp 443,04 miliar (asumsi kurs Rp 15.300/US$) pada kuartal I-2020 dari kerugian yang dibukukan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$ 20,16 juta.

Nilai laba per saham juga mengalami perbaikan menjadi US$ 0,0029 dari sebelumnya rugi per saham yang senilai US$ 0,0020.


7. Laba Sari Roti Naik 20% di Q1, Asing Lepas Saham Rp 207 M
Emiten produsen roti merek Sari Roti milik Grup Salim, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) mencatatkan kenaikan kinerja sepanjang kuartal I-2020 di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Mengacu laporan keuangan, laba bersih ROTI di kuartal I ini naik sebesar 20,03% secara year on year (YoY) menjadi Rp 77,84 miliar di akhir Maret 2020 dari periode yang sama tahun lalu Rp 64,85 miliar.

Nilai laba per saham juga mengalami kenaikan menjadi Rp 13,14 dari sebelumnya Rp 10,64.

8. Tahir Suntik Modal Bank Mayapada Rp 3,75 T, Ada Apa?
Crazy rich Indonesia, Dato' Sri Tahir memutuskan menambah modal PT Bank Mayapada Tbk (MAYA) senilai Rp 3,75 triliun. Penambahan modal tersebut dilakukan untuk memperkuat permodalan dan mengantisipasi dampak dari pemburukan ekonomi domestik dampak dari virus corona atau covid-19.

Penambahan modal yang pertama dilakukan dalam dua kali oleh pemegang saham pengendali. Pertama, melalui penjualan aset, berupa tiga gedung oleh keluarga Tahir, yang nilainya mencapai Rp 3,5 triliun. Kedua, melalui suntikan modal tunai senilai Rp 252,09 miliar.



9. Perumnas Gagal Bayar MTN Rp 200 M
Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perumahan dan permukiman, Perum Perumnas menunda pembayaran pokok (gagal bayar) atas surat utang jangka menengah (Medium Term Notes/MTN) I Perum Perumnas Tahun 2017 Seri A yang seharusnya jatuh tempo pada 28 April 2020.

Menurut data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), nilai emisi MTN ini sebesar Rp 200 miliar dengan frekuensi bayar bunga 3 bulan dengan kupon 9,75%.



[Gambas:Video CNBC]




(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading