Sentimen Pasar Pekan Depan

Pekan Depan Mau Cuan Main Saham? Perhatikan Hal Ini!

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
29 May 2022 16:15
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali bertengger di level 7.000, setelah sempat terjun bebas pasca libur lebaran. Meski hanya dua hari ditutup di zona hijau, dalam sepekan IHSG mampu menguat 1,56% point-to-point dan ditutup di level 7.026,256 pada hari terakhir perdagangan (27/5).

Untuk pekan depan, investor perlu memperhatikan beberapa hal yang mungkin dapat menggerakkan pasar.

Pertama dari dalam negeri, aturan terperinci terkait pemberlakuan kebijakan penjualan lokal atau Domestic Market Obligation (DMO di Indonesia) akan dirilis pekan depan. Aturan ini secara langsung memiliki implikasi pada pergerakan harga CPO dunia dan juga dapat menjadi sentimen akan kinerja saham-saham emiten kelapa sawit dan CPO yang melantai di bursa.


Selanjutnya pekan depan otoritas berwenang juga akan merilis data inflasi untuk bulan Mei 2022 yang diharapkan naik secara tahunan (year-over-year) dan bulanan (month-to-month). Bulan lalu inflasi Indonesia sudah berada di angka 3,47%, sedangkan untuk bulan ini Trading Economics memperkirakan inflasi berada 3,6%.

Angka tersebut memang masih masuk di kisaran target inflasi yang dicanangkan oleh Bank Indonesia di level 3±1% atau 2-4%. Meski demikian dalam jumpa pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Mei 2022 yang dilaksanakan pekan lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan inflasi domestik tahun ini akan berada di atas kisaran target. Artinya, inflasi bakal menembus di atas 4%.

Selanjutnya pekan depan Indonesia juga akan merilis kondisi manufaktur dalam bentuk laporan PMI. Bulan ini manufaktur diprediksi masih mengalami ekspansi, meskipun angkanya melambat dari bulan sebelumnya.

Sentimen lain dari dalam negeri yang patut menjadi perhatian adalah beragam aksi korporasi selama musim dividen di pasar modal. Sejumlah perusahaan masih akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk menyetujui penggunaan laba bersih dari operasi tahun lalu.

Selanjutnya beragam sentimen dari luar negeri juga mungkin dapat menuntun pergerakan IHSG pekan depan. Pertama adalah kinerja fantastis Wall Street pekan lalu, di mana indeks S&P 500 mencatatkan kinerja mingguan terbaik tahun ini dan semakin menjauhi bear market. Pekan lalu ketiga indeks utama Wall Street menguat signifikan dan mampu menghentikan pelemahan yang terjadi dalam beberapa minggu beruntun.

Kekhawatiran akan skenario terburuk akan inflasi dan suku bunga tinggi tampaknya mereda mulai minggu lalu. Wall Street malah naik setelah risalah pertemuan terbaru Fed menunjukkan bahwa pejabat bank sentral berpikir mereka perlu menaikkan suku bunga masing-masing setengah poin persentase (50 bps) pada dua pertemuan berikutnya.

Kabar penting lainnya dari negeri Paman Sam termasuk laporan pekerjaan sebagai salah satu proksi kondisi ekonomi dengan angka pengangguran diprediksi masih berada di tingkat terendah sejak Februari 2020. Selanjutnya sejumlah pejabat The Fed juga dijadwalkan untuk berbicara terkait kondisi moneter yang kian hawkish.

Dari benua Asia, minggu ini akan dipenuhi oleh rilis PMI manufaktur, dengan China menjadi sorotan utama, di mana produsen barang diperkirakan akan kembali melaporkan kontraksi karena penguncian ketat yang sedang berlangsung di Shanghai dan pembatasan ketat di kota-kota lain. Pembacaan PMI utama akan datang dari Korea Selatan dan India. Korea Selatan pekan depan juga akan mempublikasikan data inflasi untuk bulan Mei yang kemungkinan mencerminkan meningkatnya tekanan inflasi global.

Di Inggris, perkiraan final angka PMI kemungkinan akan mengkonfirmasi perlambatan tajam dalam pertumbuhan aktivitas bisnis selama bulan Mei di tengah meningkatnya tekanan inflasi dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Selanjutnya dari kawasan euro, laporan inflasi akan dirilis pekan depantermasuk untuk Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol. Tingkat inflasi tahunan di Kawasan Euro diperkirakan akan melonjak lagi di bulan Mei, mencapai level tertinggi baru sepanjang masa sebesar 7,7% dibandingkan dengan 7,4% di bulan April.

Terakhir, investor juga perlu memantau perkembangan konflik di Eropa Timur antara Ukraina dan Rusia yang memiliki implikasi besar atas harga beragam komoditas termasuk energi, minyak mentah dan batu bara, hingga harga komoditas pangan seperti gandum dan minyak nabati, termasuk CPO.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pekan Ini akan Ramai, Perhatikan Sentimen Penggerak Pasar Ini


(fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading