Fokus Investor

Bio Farma Siap Pasok Remdesivir, Garuda Mulai Nego Utang

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
06 May 2020 07:54
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham domestik masih melaju di teritori positif kendati Badan Pusat Statistik mengumumkan kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal pertama di bawah ekspektasi. Produk Domestik Bruto (PBD) Indonesia tumbuh 2,97% pada triwulan pertama 2020, lebih rendah dari periode yang sama di tahun 2019 sebesar 5,07%.

Akan tetapi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengakhiri perdagangan Rabu kemarin (5/5/2020) dengan penguatan sebesar 0,53% ke posisi 4.630,13.

Nilai transaksi di bursa mencapai Rp 5,39 triliun dari 6,07 miliar saham yang diperdagangkan. Investor asing membukukan jual bersih Rp 429,94 miliar di seluruh pasar.


Sebelum memulai perdagangan Kamis, (6/5/2020), cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia:

1. 12 Tahun Listing, Emiten Ini Bakal Didepak BEI
Satu lagi perusahaan tercatat atau emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi didepak dari papan perdagangan bursa. Kali ini giliran PT Triwira Insanlestari Tbk (TRIL), perusahaan yang bergerak di bisnis perdagangan komoditas hasil pertambangan dan energi dan juga pabrik perakitan umum.

Saham perusahaan sudah dihentikan sementara alias suspensi dan akan mencapai 24 bulan alias 2 tahun pada 2 Mei 2021 mendatang.

Dalam pengumuman Potensi Delisting Perusahaan Tercatat PT Triwira Insanlestari Tbk, BEI mengungkapkan beberapa pertimbangan. BEI akan menghapus perdagangan saham TRIL dengan catatan apabila memenuhi beberapa kriteria, antara lain jika perusahaan mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perseroan. Selanjutnya, suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar Negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

"Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dapat kami sampaikan bahwa saham Perseroan telah disuspensi selama 12 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 2 Mei 2021," tulis pengumuman BEI, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (5/5/2020).



2. Global Bond Perdana Hutama Karya Rp 9 T Laris Manis
Perusahaan konstruksi BUMN, PT Hutama Karya (Persero) menerbitkan surat utang dalam denominasi dolar AS atau global bond sebesar US$ 600 juta atau setara Rp 9 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$) meski di tengah situasi sulit pandemi Covid-19.

Direktur Utama Hutama Karya, Bintang Perbowo mengatakan, penerbitan global bond ini merupakan salah satu strategi pembiayaan jangka panjang dan lebih luas menjaring investor terutama di luar negeri.

Instrumen ini diterbitkan dengan tenor selama 10 tahun dengan kupon 3,75% dan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 5,8 kali dengan distribusi investor di Asia sebesar 42%, Eropa, Timur Tengah dan Afrika sebesar 30% dan Amerika sebesar 28%.

Penerbitan ini juga merupakan global bond pertama yang diterbitkan perseroan yang sudah mendapat peringkat layak investasi dari Moody's dan Fitch pada April lalu.

"Peminatnya 5,8 kali dari yang kita perlukan, sehingga dalam negosiasi dapat harga sedikit lebih tinggi dari obligasi pemerintah," kata kata Bintang, dalam paparan secara virtual, Senin (5/5/2020).

3.Catat! Jatuh Tempo Tahun Ini, Daftar Obligasi 13 BUMN Rp 30 T
Gagal bayar salah satu perusahaan BUMN atas surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) seakan memunculkan satu pertanyaan di tengah pandemi Covid-19: sanggupkah perusahaan pelat merah melunasi kewajiban jatuh tempo tahun ini saat ekonomi tengah jatuh?

Gagal bayar Perum Perumnas atas MTN I Perum Perumnas Tahun 2017 Seri A yang seharusnya jatuh tempo pada 28 April 2020 senilai Rp 200 miliar menjadi pelajaran yang harus diwaspadai oleh korporasi, termasuk BUMN. Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 menyebabkan operasional bisnis dan kinerja banyak perusahaan pada awal tahun 2020 melambat.

Lantas berapa besar utang jatuh tempo perusahaan BUMN saat ini? Mengacu data pencatatan efek di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah utang jatuh tempo perusahaan BUMN mencapai Rp 30,35 triliun dari 13 perusahaan BUMN. Jumlah ini di luar perhitungan MTN, promisory notes, dan juga sukuk (obligasi syariah) korporasi yang juga dicatatkan di KSEI.

Dari jumlah itu, obligasi jatuh tempo terbanyak dicatatkan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI senilai Rp 5,796 triliun, disusul PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Rp 5,372 triliun dan PT Pupuk Indonesia (Persero) senilai Rp 4,086 triliun.



4. Batal Dicaplok MNC, Link Net Guyur Dana Ekspansi Rp 2 T
Di tengah kebuntuan rencana akuisisi saham emiten layanan TV berbayar milik Grup Lippo, PT Link Net Tbk (LINK) oleh PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) milik Grup MNC, PT First Media Tbk (KBLV) sebagai pemegang saham Link Net tetap menjalankan ekspansi bisnis di tengah pandemi Covid-19.

Pada rencana awal, seharusnya akuisisi itu sudah dilakukan 6 bulan setelah diumumkan pada Desember 2019. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan lebih lanjut.

Presiden Direktur dan CEO Link Net, Marlo Budiman, memastikan, aksi korporasi perseroan tetap berjalan. Perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2 triliun pada tahun ini untuk ekspansi ke tujuh kota baru di Jawa antara lain, Cirebon, Purwakarta, Cikampek, Tegal, Yogyakarta, Kediri dan Madiun.

"Belanja modal juga dialokasikan juga untuk pembelian perangkat CPE (Customer Premises Equipment) untuk pelanggan baru dan maintenance," tutur saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (5/5/2020).

5. Negosiasi Utang, Garuda Surati Pemegang Sukuk US$ 500 Juta
Maskapai penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), menyurati para pemegang sukuk Garuda Indonesia Global Sukuk Limited yang tercatat di Bursa Singapura untuk melakukan negosiasi pembayaran seiring dengan kondisi perusahaan yang terkena dampak Covid-19.

Permintaan tersebut tercantum dalam surat perseroan tanggal 19 April 2020 kepada para pemegang sukuk. Surat yang diteken oleh Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal itu berisi permintaan agar para pemegang sukuk bisa mengungkap nilai pokok kepemilikan masing-masing investor melalui agen identifikasi perusahaan yakni D.F King.

Adapun sukuk yang dimaksud ialah sukuk Garuda Indonesia Global Sukuk Limited senilai US$ 500 juta atau setara Rp 7,75 triliun (asumsi kurs Rp 15.500/US$) yang akan jatuh tempo pada 3 Juni 2020.


[Gambas:Video CNBC]




6. Bio Farma Siap Distribusi Remdesivir, Asal Ada Restu BPOM
Perusahaan induk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Farmasi, PT Bio Farma (Persero) siap menjadi distributor untuk obat remdesivir, yang diproduksi perusahaan Amerika Serikat (AS) Gilead Science.

Remdesivir sudah dilegalkan sebagai obat bagi pasien yang terinveksi virus corona (Covid-19) di AS. Obat ini bahkan sudah di ekspor ke luar AS.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menyebutkan hanya akan mengambil posisi sebagai distributor obat saja. Syaratnya, obat tersebut telah mendapatkan izin dari Kementerian Kesehatan dan BPOM.

"Untuk Remdesivir, kita tunggu dari Kemenkes dan BPOM, apakah akan dimasukkan sebagai treatment Covid-19 di Indonesia. Prinsipnya kita siap untuk mendistribusikan obat ini," kata Honesti kepada CNBC Indonesia, Senin (4/5/2020).
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading