Tumbuh Pesat, Ini Cara Bank Mega Menjaga Kualitas Kredit

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
23 April 2020 09:57
Kostaman Thayib, Direktur Utama Bank mega.
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bank Mega Tbk (MEGA) memastikan menjaga pertumbuhan volume dan kualitas kredit yang disalurkan perusahaan, terutama di tengah pandemi COVID-19 yang menimbulkan berbagai ketidakpastian. Untuk itu Bank Mega memiliki strategi tersendiri untuk tetap meningkatkan volume kreditnya, sekaligus menjaga kualitasnya.

"Pertumbuhan kredit kan ada dua faktor, volume dan kualitas kredit. Kalau cuma satu faktor yang dilakukan mungkin mudah, tapi strategi Bank Mega adalah bagaimana mengelola 2 hal ini. Bagaimana secara volume kredit naik, tapi juga menjaga kualitasnya. Ini yang menjadi dan ini yang menjadi staretgi kami," kata Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib kepada CNBC Indonesia, Senin (22/4/2020).

Dia mengatakan tahun ini pihaknya masih fokus pada kredit korporasi dan kredit joint finance. Selain itu Bank Mega juga menyalurkan kredit infrastruktur jalan tol yang mendapatkan jaminan dari pemerintah.


Kredit jenis ini biasanya volumenya besar, namun risikonya tetap terjaga karena ada jaminan dari pemerintah. Bank Mega menyasar kredit untuk perusahaan swasta yang memiliki rekam jejak yang baik sehingga bisa mengembalikan pinjaman yang diambil.


"Kebijakan ini yang kami terapkan, karena dalam pandemi COVID-19 ini pertumbuhan kredit di beberapa sektor akan terganggu, kaya pariwisata, perhotelan, ataupun retail," kata Kostaman.

Hingga kuartal I-2020 Bank Mega mencatat pertumbuhan kredit 23,15% menjadi Rp 53,67 triliun pada Maret 2020, dibandingkan Maret 2019 senilai Rp 43,57 triliun. Angka tersebut jauh melebihi kredit perbankan per Februari yang hanya 5,93 % yoy.

Meski kredit tumbuh tinggi, Bank Mega konsisten menjaga loan to deposit ratio (LDR) di kisaran 67,48%, lebih rendah dibandingkan Maret 2019 di level 71,31%. Angka LDR Bank Mega menunjukan masih memiliki ruang yang longgar dalam penyaluran kredit ke depannya.

Pasalnya, semakin tinggi angka LDR ini menjadi tanda bahwa bank kurang leluasa untuk menyalurkan kredit, karena ketatnya likuiditas, lain halnya dengan Bank Mega.

Longgarnya likuiditas ini juga didukung oleh kuatnya Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di level 24,70%, naik dibandingkan Maret 2019 yakni 24,25%. Bukan hanya itu, Bank Mega juga mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hampir 30%, menjadi Rp 76,06 triliun, dibandingkan periode yang sama 2019 senilai Rp 58,96 triliun.

Dengan begitu, Bank Mega memiliki modal yang kuat untuk menghadapi ketidakpastian, dan tantangan yang ada tahun ini terutama di tengah pandemi COVID-19.

Sepanjang kuartal I-2020, laba bersih Bank Mega tercatat senilai Rp 669,39 miliar sepanjang kuartal I-2020, melesat 38,4% dibandingkan laba bersih kuartal I-2019 senilai Rp 483,67 miliar.

Kenaikan laba bersih ini dikontribusikan oleh kenaikan pendapatan bunga yang mencapai Rp 2 triliun, naik 12,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 1,78 triliun. Bank Mega juga mencatatkan pendapatan bunga bersih senilai Rp 989,14 miliar, naik 9,7% dibandingkan Maret 2019 senilai Rp 901,37 miliar.


Selain itu, NPL gross bank BUKU 3 ini juga terjaga di level 1,55%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu 1,75%. Sementara Return of Aseet (ROA) tercatat naik menjadi 3,29%, dan Return of Equity (ROE) 17,57%.

Seluruh kinerja ini membuat Bank Mega berhasil meraih total aset Rp 99,26 triliun, naik 18,2% dibandingkan Maret 2019 dengan aset senilai Rp 83,97 triliun.

[Gambas:Video CNBC]




(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading