IHSG Labil Maksimal, Merosot 1,27% & Asing Cabut Rp 573 M

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 April 2020 15:58
Ilustrasi Bursa, Pergerakan Layar IHSG di Gedung BEI Bursa Efek Indonesia  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sangat labil pada perdagangan Senin ini (20/4/2020). Beberapa kali bolak-balik di zona hijau, tetapi di akhir perdagangan malah melemah tajam.

IHSG mengawali perdagangan di zona hijau, tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah. Naik turun antara penguatan dan pelemahan terus terjadi selama 1 jam setelah perdagangan dibuka. Hingga akhirnya mampu stabil di zona hijau dan mengakhiri sesi I di level 4.654,851 atau menguat 0,43%.

Berdasarkan data Refinitiv, level terlemah intraday IHSG di 4.592,087 atau melemah 0,92% sementara tertinggi di 4.669,542 atau menguat 0,75% di sesi I.


Berdasarkan data RTI, nilai transaksi sepanjang sesi I sebesar Rp 2,77 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 59,27 miliar di pasar reguler dan non-reguler.

Memasuki perdagangan sesi II, IHSG masih bertahan di zona hijau, tetapi tidak lama langsung masuk kembali ke zona merah. Pelemahan IHSG semakin terakselerasi hingga menyentuh level terlemah intraday baru di 4.571,774 (-1,34%). Posisi tersebut sedikit membaik di akhir perdagangan IHSG berada di level 4.575,905, melemah 1,27%.

Nilai transaksi sepanjang perdagangan hari ini sebesar Rp 5,42 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp 572,96 miliar.

Pergerakan labil IHSG dipicu serangkaian rilis data dari Jepang serta kabar bagus dari China yang membuat bursa saham Asia bergerak bervariasi.

Indeks Nikkei Jepang berakhir melemah 1,15%, dan sudah sejak awal perdagangan, sementara Shanghai Composite China menguat 0,5%. Indeks Hang Seng Hong Kong dan Kospi Korea Selatan sama labilnya dengan IHSG, siang tadi keduanya berada di zona hijau, kini sama-sama melemah 0,21% dan 0,84%.

Data ekspor-impor Jepang yang dirilis pagi tadi menunjukkan suramnya perekonomian global yang membuat sentimen pelaku pasar memburuk.



Kementerian Keuangan Jepang hari ini melaporkan ekspor di bulan Maret anjlok 11,7% di bulan Maret dari periode yang sama tahun lalu secara year-on-year (YoY), jauh lebih besar dari bulan sebelumnya yang turun 1% YoY.

Penurunan ekspor di bulan naret tersebut lebih besar dari hasil survei Reuters terhadap para ekonom yang memprediksi penurunan sebesar 10,1%, dan menjadi yang terdalam sejak Juli 2016.

Sementara itu, impor dilaporkan turun 5% YoY, lebih baik dari hasil survei Reuters sebesar 9,8% YoY, dan bulan Februari sebesar 13,9%.

Penurunan impor yang lebih baik dari sebelumnya tersebut menunjukkan mulai pulihnya perekonomian China di bulan Maret. China merupakan mitra dagang terbesar Jepang, dan aktivitas ekonominya perlahan mulai pulih di bulan Maret setelah mampu meredam pandemi COVID-19.

Berbeda dengan China, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, baru menetapkan keadaan darurat nasional virus corona pada Selasa (7/4/2020) lalu, dan akan berlangsung selama 1 bulan. Saat itu, Abe mengumumkan kondisi darurat di Tokyo dan 6 prefektur lainnya, tetapi pada pekan lalu ditetapkan lagi menjadi seluruh Jepang.



Sebelum Jepang, AS juga sudah menerapkan kebijakan social distancing di beberapa negara bagian yang menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi yang tajam. Sayangnya, AS juga merupakan mitra dagang utama Jepang, dan ekspor di bulan Maret ke Negeri Paman Sam merosot 16,5% YoY. Penurunan tersebut merupakan yang terbesar sejak April 2011.

Tidak hanya AS, Eropa juga menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) yang membuat ekspor Jepang ke Benua Biru merosot 11,1%.
Jepang merupakan negara yang mengandalkan ekspor, dari total produk domestic bruto (PDB) ekspor berkontribusi sekitar 17%.

Anjloknya ekspor tentunya bisa menyeret turun PDB, dan kondisi ini diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

"Dampak virus corona masih akan terlihat di bulan April dan bulan-bulan berikutnya, sehingga aktivitas ekonomi belum akan normal kembali. Hal tersebut akan membuat volume perdagangan berkontraksi secara global" kata Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, sebagaimana dilansir Reuters.


[Gambas:Video CNBC]




PBoC Pangkas Suku Bunga & Lockdown di Barat Mulai Dilonggarkan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading