Investor Panik Pegang Cash, Pasar Obligasi RI Tertekan

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
19 March 2020 18:11
Investor Panik Pegang Cash, Pasar Obligasi RI Tertekan

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia pada perdagangan Kamis ini (19/3/2020) terkoreksi karena investor dihadapkan pada masalah cash flow atau arus kas. Hal ini telah memicu terjadi repricing besar-besaran atas saham dan obligasi yang memukul perdagangan obligasi yang mengandalkan volatilitas rendah ini.

"Investor menjual apa yang bisa mereka jual, seperti obligasi berkualitas tinggi, karena aset lain kurang likuid jika mereka perlu mengumpulkan uang tunai, kata Jim Caron, Senior Manajer Portofolio Fixed Income Global di Manajemen Investasi, Morgan Stanley, dalam laporannya, dikutip Kamis (19/3/2020).

Pelemahan harga obligasi tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang negara maju, meskipun cukup bervariatif, sementara negara berkembang mayoritas juga terkoreksi.

Data Refinitiv menunjukkan
penurunan harga surat utang negara (SUN) itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark). Keempat seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.


Yield
 atau imbal hasil menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Seri acuan yang paling
naik hari ini adalah FR0080 yang bertenor 15 tahun dengan kenaikan yield 5,8 basis poin (bps) menjadi 7,829%. Besaran 100 bps setara dengan 1%. 


Dengan kenaikan yield, maka harga obligasi pemerintah menjadi turun karena gerak yield dan harga obligasi berbanding terbalik. Ketika harga obligasi naik yang mencerminkan risiko rendah, maka yield turun, begitu juga sebaliknya.

  

Yield Obligasi Negara Acuan 19 Mar'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 18 Mar'20 (%)

Yield 19 Mar'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 19 Mar'21 (%)

FR0081

5 tahun

6.738

6.727

-1.10

7.3126

FR0082

10 tahun

7.547

7.583

3.60

7.9090

FR0080

15 tahun

7.771

7.829

5.80

8.3936

FR0083

20 tahun

7.951

7.958

0.70

8.3228

Sumber: Refinitiv


Koreksi
pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) juga melemah. Indeks tersebut turun 5,6 poin (2,09%) menjadi 262,29 dari posisi kemarin 267,89.

Koreksi 
di pasar surat utang hari ini senada dengan pelemahan rupiah di pasar valas yang melemah 4.69% ke Rp 15.900/US$.


Obligasi Turun, Investor Pilih Uang Tunai
Penurunan harga SUN tidak senada dengan pelemahan di pasar surat utang pemerintah negara Amerika Serikat. Di antara pasar obligasi negara yang dikompilasi Tim Riset CNBC Indonesia, SBN menjadi yang terbaik di antara negara berkembang lainnya.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju terpantau beragam, yang kesemuanya mengalami variatif tingkat yield.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 18 Mar'20 (%)

Yield 19 Mar'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

7.55

8.88

133.00

China (A+)

2.782

2.791

0.90

Jerman (AAA)

-0.224

-0.259

-3.50

Prancis (AA)

0.487

0.179

-30.80

Inggris Raya (AA)

0.788

0.836

4.80

India (BBB-)

6.298

6.408

11.00

Jepang (A)

0.057

0.1

4.30

Malaysia (A-)

3.375

3.433

5.80

Filipina (BBB)

4.891

4.954

6.30

Rusia (BBB)

8.21

8.22

1.00

Singapura (AAA)

1.607

1.779

17.20

Thailand (BBB+)

1.59

1.82

23.00

Amerika Serikat (AAA)

1.196

1.159

-3.70

Afrika Selatan (BB+)

11.105

11.545

44.00

Sumber: Refinitiv


Hal tersebut mencerminkan investor global
masih menghindari aset berisiko (risk appetite) dan obligasi pemerintah guna mengumpulkan uang tunai karena investor menghadapi masalah cash flow

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]




(har/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading