Analisis

Perkasa saat Trade Deal Diteken, Tanda Emas Akan Menguat?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 January 2020 15:59
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas masih cukup kuat pada perdagangan Kamis (16/1/2020) saat kesepakatan dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dengan China sudah resmi diteken. Pada pukul 15:03 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.553,55/troy ons, atau melemah 0,15% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sementara Rabu kemarin, logam mulia ini berhasil menguat 0,63%.

Kesepakatan dagang fase I ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He pada hari Rabu di Washington.

Dalam kesepakatan dagang fase I, AS menurunkan bea masuk impor dari sebelumnya 15% menjadi 7,5% terhadap produk China senilai US$ 120 miliar. Sementara China akan membeli produk AS senilai 200 miliar dalam dua tahun ke depan.


Selain itu, semua mengenai bea masuk kedua negara masih sama. AS masih mengenakan bea masuk sebesar 25% terhadap produk China senilai US$ 250 miliar, sementara China mengenakan bea masuk terhadap produk AS senilai US 110 miliar.



Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan bea masuk kemungkinan akan kembali dilakukan pada kesepakatan dagang fase II juga akan menurunkan bea importasi barang dari China, meski perundingan akan dilakukan dalam beberapa tahap.

"Seperti kesepakatan ini ada penurunan bea masuk, di fase II akan ada penurunan lagi. Ini hanya pertanyaan, dan seperti yang kami katakan sebelumnya, fase II kemungkinan akan 2A, 2B, 2C, kita lihat saja nanti" kata Mnuchin sebagaimana dilansir CNBC International.

Ucapan Mnuchin tersebut ditegaskan oleh Presiden AS, Donald Trump, saat meneken kesepakatan dagang fase I.

"Bea masuk masih berlaku, tapi saya setuju untuk menurunkan bea masuk jika kita bisa mencapai 'fase II'. Dengan kata lain, kita akan bernegosiasi mengenai bea masuk" kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Meski damai dagang belum terjadi sepenuhnya, dengan adanya kesepakatan dagang fase I setidaknya mengecilkan potensi eskalasi perang dagang, pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu bangkit di tahun ini. Dampaknya risk appetite pelaku pasar meningkat, dan masuk ke aset-aset berisiko.

Fakta emas masih kuat saat risk appetite pelaku pasar meningkat bisa menjadi tanda jika emas akan menguat lagi ke depannya. Apalagi, kesepakatan dagang fase II tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Presiden Trump sebelumnya sempat mengungkapkan hal tersebut baru akan dilakukan setelah Pemilu Presiden (Pilpres) pada bulan November nanti. Sehingga tekanan bagi emas relatif berkurang.



Selain itu, data ekonomi AS belakangan ini dirilis mengecewakan. Selasa (14/1/2020) lalu, data inflasi bulan Desember dirilis sebesar 0,2% sesuai dengan prediksi Reuters, tetapi lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya 0,3%.

Sementara inflasi inti, yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan, hanya tumbuh 0,1% lebih rendah dari prediksi Reuters dan pertumbuhan bulan sebelumnya 0,2%.

Untuk diketahui data inflasi dan tenaga kerja merupakan dua acuan utama bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menetapkan suku bunga. Data tenaga kerja AS sudah dirilis pada Jumat (10/1/2020) pekan lalu, hasilnya juga mengecewakan.

Pada akhir tahun lalu, The Fed mengatakan tidak akan menaikkan suku bunga di tahun ini, setelah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di 2019. Sikap tersebut membuat emas mampu menguat di penghujung tahun hingga mengakhiri perdagangan di atas US$ 1.500/troy ons di penutupan perdagangan 2019.

Melihat data tenaga kerja dan inflasi yang masih lemah, ada kemungkinan The Fed akan kembali memangkas suku bunga di tahun ini. The Fed yang berencana tidak menaikkan suku bunga di tahun ini sudah mampu membuat emas menguat, apalagi jika kembali membuka peluang pemangkasan.


Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading