Inilah Bukti Keperkasaan Rupiah yang 'Disindir' Jokowi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 January 2020 11:43
Inilah Bukti Keperkasaan Rupiah yang 'Disindir' Jokowi Foto: Ilustrasi Money Changer (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah unjuk kekuatan lagi pada perdagangan Kamis (16/1/2020), tiga dolar kembali dibuat tak berdaya.

Rupiah membuka perdagangan hari ini dengan melemah 0,11% melawan dolar Amerika Serikat (AS) di Rp 13.675/US$. Hingga satu jam setelahnya rupiah masih tertahan di zona merah, meski mulai di pangkas secara perlahan.

Selepas itu, Mata Uang Garuda akhirnya melesat hingga menguat 0,33% ke Rp 13.615/US$. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak 21 Februari 2018.


Jika dilihat sejak awal 2020, hingga mencapai level terkuat hari ini, rupiah sudah menguat 1,91%. Bahkan jika dilihat lebih ke belakang lagi, sebelum minggu ini rupiah mencatat penguatan enam pekan beruntun. Total selama periode tersebut hingga minggu ini, Sang Garuda sudah menguat 3,44%.




Grafik di atas menunjukkan bagaimana dolar AS yang terus tertekan melawan rupiah. 

Sementara melawan dolar Singapura, rupiah hari ini juga melemah 0,12% di awal perdagangan, kemudian berbalik menguat 0,37% ke level Rp 10.110,65/SG$ yang merupakan level terkuat sejak Januari 2018.

Rupiah mulai menguat tajam melawan dolar Singapura sejak pekan lalu, total penguatan hingga hari ini sebesar 1,94%.


Pergerakan yang sama juga ditunjukkan rupiah melawan dolar Australia, melemah 0,3% kemudian berbalik menguat 0,32% ke level 9.413,60/AU$, yang berada di dekat level penutupan terkuat sejak Agustus 2013.

Melawan dolar Australia, rupiah sudah menguat sejak perdagangan pertama 2020, dengan total 3,28%.

Tidak hanya itu, rupiah juga menguat melawan mata uang Eropa, euro dan poundsterling. Sejak pekan lalu rupiah sudah menguat nyaris 2% melawan euro dan berada di level terkuat sejak Juli 2017. Sementara pada periode yang sama, Sang Garuda menguat 2,8% melawan poundsterling.

Penguatan tajam rupiah tersebut mendapat perhatian dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Nilai tukar rupiah kita menguat. Kalau menguatnya terlalu cepat kita harus hati-hati," kata Jokowi saat menjadi pembicara dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Ritz Carlton, SCBD, Kamis (16/1/2020).


"Ada yang tidak senang dan ada yang senang. Eksportir pasti tidak senang karena rupiah menguat, menguat, menguat," kata Jokowi lagi.


Jika nilai tukar rupiah terus menguat, tidak hanya eksportir yang tidak senang seperti kata Jokowi, tetapi juga dapat membuat impor melonjak. Dampaknya bisa berujung pada defisit neraca dagang yang membengkak, dan tentunya memperlebar lagi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Setelah disorot Jokowi, laju penguatan rupiah mengendur, penguatan terpangkas hingga tersisa 0,07% di level Rp 13.650/US$ pada pukul 11:00 WIB.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading