Jokowi Tak Mau Rupiah Terlalu Kuat, Ada Benarnya Sih...

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
16 January 2020 11:27
Jokowi menyampaikan dalam pidato di PTIJK bahwa ia tak ingin rupiah terlalu kuat. Penguatan rupiah di atas fundamentalnya berisiko.
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam pidato di acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan, Presiden Joko Widodo mengungkapkan penguatan nilai tukar rupiah yang terlalu cepat bisa berdampak negatif. Penguatan rupiah di satu sisi memang bagus, tetapi juga harus dicermati faktor fundamentalnya.

Kamis (16/1/2020), Presiden Jokowi menghadiri acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan. Dalam kesempatan tersebut Jokowi menyampaikan pidatonya seputar Omnibus Law dan juga tak ketinggalan terkait ibu kota baru. Jokowi juga merespons penguatan rupiah yang terjadi baru-baru ini. Ia menyampaikan tak ingin rupiah terlalu kuat.


Tahun 2020 diwarnai dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada pembukaan di hari pertama pasar pada 2 Januari 2020, rupiah dihargai Rp 13.865/US$. Hari ini, Kamis (16/1/2020) rupiah berada di posisi Rp 13.650/US$ pada 11.00 WIB, artinya rupiah mengalami apresiasi 1,55% sejak awal tahun.


Bahkan rupiah sempat menyentuh level Rp 13.615/US$ pada perdagangan spot hari ini. Rupiah memang sedang kuat-kuatnya akhir-akhir ini. Sampai kemarin, kinerja rupiah berhasil melibas mata uang lain dari benua kuning dan dinobatkan sebagai runner up setelah Yen.



Penguatan rupiah juga ditopang oleh berbagai sentimen global. Terutama dari poros Washington-Beijing. Keduanya menandatangani kesepakatan dagang fase pertama kemarin di Gedung Putih.


Presiden AS Donald Trump dan China yang diwakili Perdana Menterinya Liu He sah menandatangani kesepakatan dagang fase satu. Kesepakatan tersebut menjelaskan bahwa AS memangkas tarif untuk produk China senilai US$ 120 miliar dari 15% menjadi 7,5%.

Sebagai balasannya China membeli produk dan jasa AS senilai US$ 200 miliar hingga 2021. Pada 2020 target pembelian barang dan jasa AS oleh China dipatok di angka US$ 77 miliar dan sisanya di tahun 2021. Walau banyak yang skeptis, kesepakatan dagang ini cukup membawa euforia di pasar.

Setidaknya sentimen di atas membuat risk appetite investor kembali naik. Bank Indonesia mencatat sejak awal tahun aliran modal asing masuk neto ke tanah air mencapai Rp 10,1 triliun. Selama periode tersebut aliran masuk singgah ke Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.



Rupiah yang 'Terlalu Kuat' itu Berisiko Lho, Cek Fundamentalnya Dulu
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading