Analisis

"Disemprit" Jokowi, Rupiah Batal Menguat ke Rp 13.500/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 January 2020 13:04
Jakarta, CNCB Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/1/2020).

Start rupiah pada perdagangan hari ini terbilang lambat, dengan melemah 0,11% melawan dolar Amerika Serikat (AS) di Rp 13.675/US$. Hingga satu jam setelahnya rupiah masih tertehan di zona merah, meski mulai di pangkas secara perlahan.

Selepas itu, Mata Uang Garuda akhirnya melesat hingga menguat 0,33% ke Rp 13.615/US$. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak 21 Februari 2018. Sayangnya setelah mencapai level tersebut rupiah mengendur, apalagi perkasanya nilai tukar Sang Garuda kini sudah mendapat perhatian oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).


"Nilai tukar rupiah kita menguat. Kalau menguatnya terlalu cepat kita harus hati-hati," kata Jokowi saat menjadi pembicara dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Ritz Carlton, SCBD, Kamis (16/1/2020).

"Ada yang tidak senang dan ada yang senang. Eksportir pasti tidak senang karena rupiah menguat, menguat, menguat," kata Jokowi lagi.

Rupiah sudah sangat dekat dengan Rp 13.500-an per dolar AS, tetapi sayangnya setelah Jokowi memberikan pernyataan tersebut, rupiah terus memangkas penguatan hingga tersisa 0,04% dan berada di level Rp 13.655/US$ pada pukul 12:50 WIB.



Jika dilihat sejak awal 2020, hingga mencapai level terkuat hari ini, rupiah sudah menguat 1,91%. Bahkan jika dilihat lebih ke belakang lagi, sebelum minggu ini rupiah mencatat penguatan enam pekan beruntun. Total selama periode tersebut hingga minggu ini, Mata Uang Garuda sudah menguat 3,44%.

Jika nilai tukar rupiah terus menguat, tidak hanya eksportir yang tidak senang seperti kata Jokowi, tetapi juga dapat membuat impor melonjak. Dampaknya bisa berujung pada defisit neraca dagang yang membengkak, dan tentunya memperlebar lagi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Kesepakatan dagang fase I AS-China menjadi salah satu faktor utama terus menguatnya rupiah. Kesepakatan tersebut sudah diteken pada hari Rabu di Washington.

Meski damai dagang belum terjadi sepenuhnya, tetapi risiko eskalasi perang dagang kedua negara setidaknya sudah menurun dengan kesepakatan fase I. Pertumbuhan ekonomi global diharapkan bisa bangkit di tahun ini, yang membuat risk appetite pelaku pasar meningkat. Dampaknya, rupiah terus menguat.


Selain itu data dari dalam negeri juga mendukung penguatan rupiah. Bank Indonesia (BI) merilis data cadangan devisa Desember 2019 yang naik menjadi US$ 129,18 miliar, dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat US$ 126,63 miliar. Cadangan devisa di bulan Desember tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Januari 2018.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," tulis BI dalam keterangannya, Rabu (8/1/2020) pekan lalu.

Dengan cadangan devisa yang meningkat, BI akan lebih leluasa menstabilkan nilai tukar rupiah ketika mengalami gejolak, sehingga investor akan merasa nyaman menanamkan modalnya di Indonesia.

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan realisasi ekspor selama 2019, mencapai US$ 167,53 miliar atau turun 6,94% dari 2018 lalu yang mencapai US$ 180,01 miliar. Sementara total impor selama 2019, tercatat US$ 178,72 miliar atau turun 9,53% dibandingkan di 2018 yang sebesar US$ 188,71 miliar.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 mengalami defisit US$ 3,2 miliar. "Angka ini jauh lebih baik dari 2018 yang defisitnya US$ 8,6 miliar," kata Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Rabu (15/1/2020).

Selain itu BPS juga melaporkan persentase penduduk miskin pada September 2019 sebesar 9,22%, angka ini menurun 0,19% poin terhadap Maret 2019 dan menurun 0,44% poin terhadap September 2018.

Tak cuma angka kemiskinan yang turun, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio juga turun. Gini Ratio September 2019 sebesar 0,38, turun 0,002 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,382 dan menurun 0,004 poin dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,384.


Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading