Astaga! Tambah Lagi Negara di Ambang Krisis: Chili

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
29 November 2019 11:18
Astaga! Tambah Lagi Negara di Ambang Krisis: Chili

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Sentral Chili atau Central Bank of Chile (CBC) mengumumkan akan menyuntikkan dana senilai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 280 triliun (kurs Rp 14.000/dolar) guna menopang ekonomi negara yang terletak di tenggara Amerika Selatan itu.

Dalam pernyataannya pada Kamis (28/11/2019), suntikan dana itu bertujuan untuk menyelamatkan ekonomi Chili dari kekacauan sosial yang terjadi di negara itu dalam tiga dekade dan meredam anjloknya mata uang negara itu, peso.

Selain itu, ekonomi Chili tertekan lantaran terjadi penurunan harga tembaga, di mana Chili adalah produsen terkemuka dunia.


"
Langkah intervensi ini dilakukan karena tingkat volatilitas yang berlebihan dalam nilai tukar [peso] yang menghambat terbentuknya harga, menghambat keputusan belanja masyarakat dan perusahaan, termasuk produksi [perusahaan/pabrik], yang kemudian menyebabkan kekhawatiran di pasar," kata CBC, sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat ini (29/11/2019).


Astaga! Tambah Lagi Negara di Jurang Krisis: ChiliFoto: Aksi Protes Anti-Pemerintah di Santiago, Chili pada Senin, 28 Oktober 2019 (REUTERS/Henry Romero)


Nilai peso tercatat turun 1,1% pada Kamis kemarin dan ditutup di level 828,36 peso per dolar AS. Ini merupakan penurunan untuk hari kedua berturut-turut. Pada Rabu, nilai peso merosot 1,6% menjadi 812 per dolar AS.

Namun meski begitu, bank sentral mengatakan fluktuasi nilai peso tidak akan memiliki efek langsung pada rumah tangga dan bisnis di Chili, karena inflasi tetap pada level "moderat" di bawah 3%.

Peso telah kehilangan sekitar 15% dari nilainya alias terdepresiasi dalam sejak 18 Oktober, ketika demonstrasi yang kacau di Chili untuk menentang ketidaksetaraan sosial dan ekonomi meletus.

Astaga! Tambah Lagi Negara di Jurang Krisis: ChiliFoto: Sebuah Gedung Mall Terbakar Saat Aksi Protes Anti-Pemerintah di Santiago, Chili pada Senin, 28 Oktober 2019 (REUTERS/Henry Romero)


Lebih lanjut, bank sentral mengatakan akan menjual dolar (di pasar valuta asing) hingga US$ 10 miliar dan melakukan lindung nilai alias hedging instrumen hingga US$ 10 miliar.

"Langkah-langkah itu akan dilakukan mulai dari 2 Desember hingga 29 Mei 2020," kata bank sentral.

Sebelumnya 
pada 13 November, bank sentral juga telah menyuntikkan mata uang asing senilai US$ 4 miliar. Langkah itu ditujukan untuk mengurangi ketegangan di pasar keuangan.

Tak hanya Bank Sentral Chili, bank sentral AS cabang New York yakni 
Federal Reserve Bank of New York pada hari Kamis (19/9/19) juga kembali menyuntikkan miliaran dana ke pasar uang Amerika Serikat (AS) guna memberikan likuiditas.

Langkah ini bertujuan agar Federal Reserve mampu mengontrol pergerakan suku bunga jangka pendek dan untuk menjaga agar biaya pinjaman tidak melonjak di atas kisaran target Fed.


Di sisi lain, selain Chili, beberapa negara lain pun mulai terasa tekanan di sisi pertumbuhan ekonomi. Jepang mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 sebesar 0,2% secara kuartalan yang disetahunkan (annualized). Jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mampu tumbuh 1,8%, dan menjadi laju pertumbuhan terlemah sejak kuartal III-2018.

Ekonomi Jerman juga tercatat tumbuh hanya 0,1% di kuartal III-2019 dibandingkan kuartal II-2019 (quarter to quarter/qtq). Sementara dibandingkan kuartal III-2018 (year on year/YoY), ekonomi Jerman tercatat tumbuh 0,5%.

Adapun di Hong Kong, selama kuartal III-2019, PDB Hong Kong tercatat 3,2%. Sebelumnya di kuartal II-2019, ekonomi Hong Kong turun -0,4%.

Negara-negara yang terjerumus jurang resesi

[Gambas:Video CNBC]

 

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading