Dalam 2 Hari, Harga Minyak Naik Ke Level Tertinggi 2 Bulan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 November 2019 08:34
Reuters pada hari Kamis melaporkan OPEC dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang program pembatasan produksi selama tiga bulan hingga pertengahan 2020.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah mencapai level tertinggi dua bulan di pekan ini. Level tersebut dicapai hanya dalam penguatan dua hari beruntun. Harapan akan diperpanjangnya program pembatasan produksi kartel minyak mentah, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) memicu kenaikan harga tersebut.

Reuters pada hari Kamis melaporkan OPEC dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang program pembatasan produksi selama tiga bulan hingga pertengahan 2020. Pertemuan OPEC plus Rusia tersebut akan dilakukan pada 5 dan 6 Desember mendatang.




Merespon kabar tersebut, minyak mentah jenis Brent langsung menguat 2,52% ke level US$ 63,97 per barel, melanjutkan kenaikan 2,45% hari sebelumnya. Kenaikan dua hari tersebut yang membawa harga minyak mentah ke level tertinggi dua bulan.

Sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) di hari yang sama menguat 2,57%, melanjutkan kenaikan 3,44% di hari Rabu.

Meski demikian harga minyak mentah terkoreksi turun dari level tertinggi dua bulan pada Jumat kemarin, Brent dan WTI terkoreksi turun 0,91% dan 1,38%.



Masih belum pastinya hasil perundingan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China membuat harga minyak mentah yang mencapai level tertinggi dua bulan diterpa aksi ambil untung. Maklum saja, dua negara ini merupakan konsumen minyak mentah terbesar di dunia.

Perang dagang yang terjadi sudah membuat perekonomian kedua negara melambat bahkan turut menyeret perekonomian global. Dampaknya permintaan akan minyak mentah menjadi menurun, yang membuat harganya tertekan.

Sepanjang pekan ini pergerakan minyak mentah juga diwarnai perkembangan terbaru perundingan dagang kedua belah pihak.

Kabar terbaru pada Jumat kemarin, CNBC International mewartakan Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dagang dengan China "berpotensi sangat dekat".

"Pada dasarnya kita memiliki peluang yang sangat bagus untuk mencapai kesepakatan" kata Trump dalam acara Fox and Friends, sebagaimana dilansir CNBC International.



Meski demikian, tetap saja pelaku pasar masih belum terlalu yakin mengingat sejarah perundingan kedua negara yang terus naik turun.

Apalagi Trump masih berencana akan menaikkan bea masuk lagi pada tanggal 15 Desember nanti. Jika tidak ada penandatanganan kesepakatan hingga tanggal itu, maka AS akan menaikkan bea masuk produk China senilai US$ 156 miliar.

Jika hal tersebut terjadi, perang dagang bisa kembali tereskalasi, pertumbuhan ekonomi bisa melambat lagi, dan permintaan minyak mentah akan menurun.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading