Harga Minyak Mentah Ambrol 6% Lebih, Kabar Buruk bagi Dunia?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 March 2021 11:45
FILE PHOTO: Saudi Aramco's Ras Tanura oil refinery and oil terminal in Saudi Arabia, May 21, 2018. REUTERS/Ahmed Jadallah/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah ambrol nyaris 4% pada perdagangan Selasa kemarin (23/3) hingga menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir.

Harga minyak mentah sering menjadi indikator kesehatan perekonomian global, sebab mencerminkan aktivitas industri serta tingkat mobilitas manusia.

Ketika roda perekonomian berputar dengan cepat, maka permintaan minyak mentah diproyeksikan akan meningkat, harganya pun meningkat. Sebaliknya, ketika roda bisnis melambat, maka permintaan perkirakan akan berkurang dan harganya menurun.


Itu dari sisi demand, dari sisi supply juga bisa mempengaruhi harga minyak mentah.

Pada perdagangan Selasa kemarin, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) merosot 6,16% ke US$ 57,76/barel. Pada hari ini, Rabu (24/3/2021), pukul 10:54 WIB diperdagangkan di kisaran US$ 57,80/barel, naik tipis 0,07% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Sementara minyak jenis Brent hari ini naik 0,12% ke US$ 60,86/barel, setelah merosot 5,93% kemarin.

Kabar buruknya lagi, harga kontrak minyak mentah untuk beberapa bulan ke depan kini menjadi contango, atau semakin lama semakin rendah. Hal tersebut menjadi indikasi berkurangnya permintaan minyak mentah.

Kasus penyakit virus corona (Covid-19) yang kembali meningkat secara global membuat prospek permintaan minyak mentah memburuk.

Per 23 Maret 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan jumlah pasien positif corona di seluruh negara adalah 123.216.178 orang. Bertambah 223.334 orang dari hari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir (10-23 Maret 2021), rata-rata penambahan pasien baru adalah 450.655 orang per hari. Jauh lebih tinggi dibandingkan rerata 14 hari sebelumnya yaitu 394.113 orang setiap harinya.

Eropa, yang sempat 'adem', kini kembali dibuat kalang-kabut oleh lonjakan kasus baru. WHO mencatat, jumlah pasien positif corona di Benua Biru per 23 Maret 2021 adalah 42.870.334 orang. Bertambah 162.860 orang dari hari sebelumnya.

Selama dua pekan terakhir, rata-rata tambahan pasien baru adalah 198.751 orang per hari. Melonjak dibandingkan rerata 14 hari sebelumnya yakni 162.341 orang per hari.

Oleh karena itu, Eropa kini dinilai sudah terpukul oleh gelombang serangan ketiga (third wave outbreak) virus corona. Gelombang yang membuat sejumlah negara kembali memperketat pembatasan sosial (social distancing).

Mulai akhir pekan lalu, Prancis memberlakukan karantina wilayah (lockdown) di tujuh wilayah, termasuk ibu kota Paris. Lockdown akan berlaku selama sebulan. Selain itu, berlaku jam malam secara nasional yaitu pada pukul 19:00.

Di Jerman, Kanselir Angela Merkel memutuskan untuk memperpanjang lockdown hingga 18 April 2021. Warga Negeri Panser diminta untuk tetap di rumah selama libur Hari Paskah.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mutasi Corona Inggris & Trump Bikin Harga Minyak Terbenam!


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading