Sempat Ambrol 7% Lebih, Harga Minyak Mentah Sukses Bangkit

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 July 2021 16:50
tambang minyak lepas pantail

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah sempat ambrol pada perdagangan awal pekan ini, tetapi setelahnya sukses mencatat penguatan 4 hari beruntun. Alhasil, harga minyak mentah mampu mencatat penguatan tipis di pekan ini.

Melansir data Refinitiv, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ambrol 7,5% di hari Senin (19/7/2021) ke US$ 66,42/barel. Setelahnya, WTI sukses membukukan penguatan 4 hari beruntun. Sepanjang pekan ini, WTI akhirnya membukukan penguatan 0,36% ke US$ 72,07/barel.

Hal tang sama juga pada minyak mentah jenis Brent, sepanjang pekan ini mampu menguat 0,69% ke US$ 74,1/barel. Di hari Senin, Brent anjlok 6,75% sebelum menguat 4 hari beruntun.


idrFoto: Data wrapper 

Jebloknya harga minyak mentah di awal pekan terjadi setelah OPEC+ sepakat untuk menaikkan tingkat produksinya. Sebanyak 23 negara yang tergabung dalam OPEC+ pada hari Minggu (18/7/2021) sepakat untuk menaikkan produksi minyak mentah sebanyak 400.000 barel setiap bulannya mulai bulan Agustus. Kenaikan tersebut akan terus dilakukan hingga September 2022.

Pada musim semi tahun lalu, OPEC+ sepakat memangkas produksinya sebesar 10 juta barel per hari guna mendongkrak harga yang jatuh akibat pandemi Covid-19. Setelah harga naik, OPEC+ perlahan meningkatkan produksinya hingga saat ini kurang 5,8 juta barel per hari dari level sebelum pandemi. Artinya, pada September 2022 nanti, tingkat produksi OPEC+ akan kembali normal.

Meski demikian, harga minyak mentah diprediksi masih akan menguat di tahun ini, sebab meski OPEC+ menaikkan produksinya, supply diperkirakan masih ketat. Terbukti, harga minyak mentah sukses mencatat penguatan 4 hari beruntun, dan kembali ke atas US$ 70/barel.

Citi Group bahkan memprediksi harga minyak WTI dan Brent akan mencapai US$ 85/barel di tahun ini, melihat pemintaan yang akan meningkat di musim panas.

"Permintaan bensin di musim panas tahun ini seharusnya lebih tinggi ketimbang biasanya," kata analis Citi dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International, Senin (19/7/2021).

Hal senada juga diungkapkan UBS, tetapi memprediksi minyak Brent hanya mencapai US$ 80/barel sebelum terkoreksi ke US$ 75/barel di akhir tahun.

"Permintaan akan tumbuh lebih tinggi ketimbang supply dalam jangka pendek. Kami memperkirakan supply masih akan ketat di musim panas, yang akan membawah harga minyak mentah naik," kata UBS.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Naik-Turunnya Kebangetan, Kenapa sih dengan Harga Minyak?


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading