Bursa Regional Sudah Balik Menghijau, IHSG Masih Saja Melemah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
18 November 2019 12:34
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pertama di pekan ini, Senin (18/11/2019), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 0,03% ke level 6.126,41 Per akhir sesi satu, koreksi indeks saham acuan di Indonesia tersebut sudah bertambah dalam yakni sebesar 0,28% ke level 6.111,46.

Data perdagangan mencatat, saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam menekan kinerja IHSG di antaranya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-1,72%), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk/CPIN (-2,48%), PT Bank Permata Tbk/BNLI (-8,77%), PT United Tractors Tbk/UNTR (-3,13%), dan PT Semen Indonesia Tbk/SMGR (-3,14%).


Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang justru sedang melaju di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei naik 0,26%, indeks Shanghai menguat 0,58%, indeks Hang Seng melejit 1,11%, dan indeks Straits Times terapresiasi 0,29%.


Bursa saham Benua Kuning berhasil membalikkan keadaan pasca dibuka melemah pada pagi hari tadi. Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai melemah 0,06%, indeks Straits Times jatuh 0,22%, dan indeks Kospi terkoreksi 0,01%. Sementara itu, indeks Hang Seng dibuka menguat 0,44% dan indeks Nikkei dibuka flat.

Bursa saham Benua Kuning menguat seiring dengan perkembangan yang positif terkait negosiasi dagang AS-China.

Menurut kantor berita Xinhua, Wakil Perdana Menteri China Liu He menggelar perbincangan via sambungan telepon dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer pada akhir pekan kemarin terkait dengan kesepakatan dagang tahap satu, seperti dilansir dari CNBC International.

Xinhua melaporkan bahwa kedua belah pihak mengadakan diskusi yang konstruktif terkait dengan kekhawatiran di bidang perdagangan yang dimiliki masing-masing pihak.

Bursa Regional Sudah Balik Menghijau, IHSG Masih Saja MelemahFoto: Wakil Perdana Menteri China Liu He berjabat tangan dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin di luar kantor Perwakilan Dagang AS di Washington, AS, (9/5/2019). (REUTERS / James Lawler Duggan)

Kedua pihak disebut setuju untuk tetap berdialog secara intens. Xinhua juga melaporkan bahwa pembicaraan via sambungan telepon antar negosiator dagang tingkat tinggi dari AS dan China tersebut merupakan permintaan dari pihak AS.

Perkembangan ini lantas memberikan kelegaan bagi para pelaku pasar. Sebelumnya, pemberitaan terkait negosiasi dagang kedua negara terbilang negatif sehingga membuat pelaku pasar khawatir bahwa kesepakatan dagang tahap satu belum akan bisa diteken dalam waktu dekat.

CNBC International melaporkan pada pekan lalu bahwa AS sedang berusaha mendapatkan konsesi yang lebih besar dari China terkait dengan perlindungan kekayaan intelektual dan penghentian praktik transfer teknologi secara paksa.

Di sisi lain, Beijing dikabarkan enggan untuk memasukkan komitmen untuk membeli produk agrikultur asal AS dalam jumlah tertentu dalam teks kesepakatan dagang tahap satu.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa China setuju untuk membeli produk agrikultur asal AS senilai US$ 50 miliar setiap tahunnya sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu.

Kemudian, Beijing kembali menegaskan bahwa AS harus menghapuskan bea masuk tambahan yang sudah dibebankan terhadap produk impor asal China jika ingin kesepakatan dagang tahap satu tercapai, sebuah hal yang masih enggan disetujui oleh pihak AS.

Sejauh ini, bea masuk tambahan yang dikenakan oleh masing-masing negara terbukti sudah menghantam perekonomiannya masing-masing. Belum lama ini, pembacaan awal untuk angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal III-2019 diumumkan di level 1,9% (QoQ annualized), jauh melambat dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu (kuartal III-2018) yang mencapai 3,4%.


Beralih ke China, belum lama ini Beijing mengumumkan bahwa perekonomiannya hanya tumbuh di level 6% secara tahunan pada kuartal III-2019, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 6,1%, seperti dilansir dari Trading Economics. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2019 juga lebih rendah dibandingkan capaian pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2%.

Jika kesepakatan dagang tahap satu bisa diteken, roda perekonomian AS dan China, berikut dengan roda perekonomian dunia, bisa dipacu untuk berputar lebih kencang.
Neraca Dagang Secara Mengejutkan Cetak Surplus
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading