Anjlok ke Bawah US$ 1.500/oz Lagi, Reli Emas Tak Tahan Lama

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 October 2019 06:46
Harga emas yang sudah melesat tinggi di tahun ini tentunya memerlukan lebih banyak
Jakarta, CNBC Indonesia - Emas kehabisan "bensin" setelah sempat melesat naik 1% hingga ke level US$ 1.517/troy ons pada Jumat lalu. Penguatan tajam itu hanya berlangsung sesaat, emas gagal mempertahankan momentum penguatan dan mengakhiri perdagangan di level US$ 1.504,33/troy ons, atau hanya menguat 0,07% pada perdagangan Jumat.

Sementara pada hari ini Senin (28/10/19) memasuki perdagangan sesi AS, harga emas balik lagi ke bawah level psikologis US$ 1.500/troy ons. Pada pukul 20:32 WIB, harga emas diperdagangkan di level US$ 1.491,01/troy ons, atau melemah 0,89% di pasar spot, melansir data Refinitiv.





Spekulasi bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga di pekan ini membuat harga emas "mengamuk", melesat sekitar 1% ke level US$ 1.517/troy ons pada perdagangan sesi AS Jumat (25/10/19) pekan lalu.

Berdasarkan data piranti FedWatch milik CME Group, sejak pekan lalu hingga hari ini pelaku pasar melihat probabilitas di atas 90% The Fed akan memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 1,5-1,75% pada 30 Oktober (31 Oktober dini hari WIB).

Namun sepertinya pemangkasan suku bunga dari The Fed di pekan ini tidak akan cukup mengangkat harga emas jika sang pimpinan, Jerome Powell, mengindikasikan belum akan ada lagi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.



Prediksi akan munculnya kalimat tersebut datang dari bank investasi ternama Goldman Sachs. Melansir CNBC International, Goldman Sachs meyakini The Fed akan memangkas suku bunga 25 bps pekan ini, tetapi juga memprediksi Powell menilai pemangkasan kali ini menjadi yang terakhir, dan suku bunga akan ditahan dalam beberapa waktu ke depan.

Harga emas yang sudah melesat tinggi di tahun ini tentunya memerlukan lebih banyak "bensin" untuk terus menguat lagi. Apalagi, kini muncul sinyal kesepakatan dagang AS-China akan segera ditandatangani.

AS-China dikabarkan segera menyepakati perjanjian damai dagang fase I. Mengutip keterangan tertulis Kantor Perwakilan Dagang AS, Washington dan Beijing disebut sudah menyepakati sejumlah isu yang spesifik.

"Kedua pihak sudah dekat untuk menyepakati beberapa hal dalam perjanjian. Diskusi tingkat wakil menteri akan terus berlangsung, dan kedua negara akan mengadakan pembicaraan melalui sambungan telepon dalam waktu dekat," ungkap keterangan tertulis itu.

Tidak hanya AS, pihak China pun memberi konfirmasi bahwa diskusi berjalan mulus. Keterangan tertulis Kementerian Perdagangan China menyebutkan, pembahasan teknis mengenai sejumlah isu bisa dibilang sudah kelar. Salah satu isu yang dibahas adalah soal sektor pertanian.

Jika kesepakatan dagang kedua negara ditandatangani, dan mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi global, maka tren kenaikan emas diprediksi akan berakhir.



Capital Economics, lembaga riset makroekonomi ternama yang berbasis di London, bahkan memprediksi harga emas akan merosot dua tahun ke depan.

Melansir kitco.com, chief commodities economist di Capital Economics, Caroline Bain memproyeksikan harga emas dunia berada di kisaran US$ 1.350/troy ons di akhir 2020. "Tren kenaikan harga emas sudah berakhir," ujarnya.

Untuk tahun 2021, harga emas diprediksi masih akan turun lagi ke kisaran US$ 1.250/troy ons. Sementara untuk akhir tahun ini, harga emas diprediksi akan berada di kisaran US$ 1.500/troy ons. "Di tahun ini, harga emas diuntungkan oleh ketidakpastian ekonomi, peningkatan tensi geopolitik, serta pemangkasan suku bunga di AS" kata Bain.

Capital Economics memprediksi di tahun depan pertumbuhan ekonomi global akan membaik, yang membuat selera terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar meningkat, dampaknya emas tidak akan menarik lagi. Bain mengatakan "investasi terbaik" untuk tahun depan bukan logam mulia.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading